Sunday , 18 November 2018
Home / Kebetulan Jalan-jalan / 28 Jam di Kota Miri, Sarawak.

28 Jam di Kota Miri, Sarawak.

Kota Miri menjadi destinasi wisata terakhir yang kami kunjungi dalam lawatan seminggu ke Borneo Utara, 22 – 29 Juli 2018 lalu.

Kota kecil di negara bagian Sarawak ini mungkin kurang familiar di telinga orang Indonesia. Selain itu, dibandingkan daerah lain di Malaysia, seperti Kuala Lumpur atau Penang, sepertinya kota minyak yang satu ini kurang difavoritkan sebagai tujuan wisata oleh orang Indonesia.

MENGAPA MEMILIH MIRI?

Hmmm… karena di Miri banyak wisata alam seperti jelajah gua!

Tadinya (tadinya lhooo!), kami merencanakan caving ke salah satu gua di sana … tapi akhirnya tidak jadi karena sudah kelelahan. Setelah berkelana menclok sana sini dalam perjalanan medley kali ini, badan kami rasanya tak sanggup lagi melakukan aktivitas berat hahaha … Kami sudah pernah jelajah gua di Jomblang, Gunung Kidul, Mei 2018 lalu. Jadi, sudah punya bayangan akan selelah apa nantinya kalau nekat caving.

KOTA KINABALU – MIRI!

Tanpa sarapan, kami check out dari Courtyard Hotel Kinabalu pukul 05.30 waktu setempat. Lalu, melaju ke Kota Kinabalu International Airport (yang biasa disingkat KKIA) dengan Grab Car bertarif sekitar 15 RM. Ini jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif taksi yang sekitar 50 RM.

Penerbangan Kota Kinabalu – Miri ditempuh dengan pesawat Air Asia, yang take off sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Harga tiket yang murah (sekitar 200 ribu rupiah) menjadi pertimbangan lain kami untuk mampir ke Miri sebelum pulang ke Jakarta. Mumpung sudah sampai sini yekaaan. Penerbangan Kinabalu – Miri dapat ditempuh dengan waktu 50 menit. Ringkas dan efisien. Bandingkan dengan perjalanan darat yang membutuhkan waktu sekitar 7 jam (jarak 300 – 400 km) dan harus keluar masuk pos imigrasi (Sabah – Brunei – Sarawak) …. hmm!

08.00 : SELAMAT DATANG DI BANDARAYA MIRI!

Kami tiba di Miri Airport pada Minggu, 29 Juli 2018, pukul 08.30 waktu setempat. Karena lintas negara bagian, maka kami harus melakukan chop paspor di imigrasi.

Setelah berhari-hari didera cuaca yang sangat panas di Kota Kinabalu, udara mendung Miri menyambut kami.

Miri Airport

 

Peta Kota Miri di Bandara

 

Perjalanan dari bandara menuju kota dapat ditempuh dengan taksi. Sejauh mata memandang, tidak ada fasilitas bis atau kereta bandara. Biaya taksi dipatok 25 RM jika menggunakan taksi merah dan 26 RM dengan taksi biru. Bedanya? Taksi merah menggunakan mobil sejenis sedan, tampak tua, dan lusuh. Taksi biru menggunakan mobil toyota sejenis Innova dan tampak lebih kinclong.

09.00 – 10.00 : KE HOTEL DAN SARAPAN

Tiba di pusat kota, kami langsung menuju Kingwood Boutique Hotel yang telah dipesan sebelumnya.

Karena check in baru bisa dilakukan jam 14, akhirnya kami hanya menitipkan tas yang segambreng. Tentang hotel ini, akan kami ceritakan nanti.

Kelar urusan administrasi hotel, kami memutuskan untuk sarapan di kedai terdekat sambil memikirkan rencana selanjutnya. Untungnya, di sekitar hotel terdapat banyak kedai makan.

Mendung sudah berganti gerimis saat kami melangkahkan kaki ke kedai ChaCha, tepat di sebelah hotel. Kedai ini menyajikan masakan berbumbu kari, masakan Indonesia, dan masakan Asia lain.

Karena bosan dengan serba kari saat di Kota Kinabalu kemarin, saya memesan Nasi Tom Yam dengan Telur Dadar, sementara doski memesan Mie Goreng Jawa dan Roti Tawar. Alhamdulillah, nasi yang disajikan di sini lebih normal, teksturnya tidak ambyar (pecah) seperti di Kota Kinabalu.

Untuk semua makanan yang kami pesan, ditambah secangkir kopi dan sebotol air mineral, harga yang harus kami bayar adalah 16 RM.

Tom Yam @Kedai ChaCha.

 

10.00 – 12.00. The Grand Old Lady, Canada Hills, dan Muzium Petroleum

Setelah sarapan, pagi itu kami memutuskan untuk melangkahkan kaki ke kawasan Canada Hills dengan menyewa Grab Car. Di sana, pengunjung bukan hanya dapat menyaksikan pemandangan Kota Miri dari atas bukit, namun juga dapat mengunjungi sumur minyak yang pertama kali ditemukan di kota ini (The Grand Old Lady) dan Muzium Petroleum. Ketiga lokasi tersebut berdekatan dan dapat ditempuh dengan jalan kaki.

Kota Miri dari atas Canada Hills

 

Canada Hills dan sekitarnya merupakan tempat untuk mengenang bagaimana sumur minyak ditemukan pertama kali di Malaysia dan perjalanan industri minyak di negara ini selama lebih dari setengah abad.

Di atas bukit inilah terletak The Grand Old Lady, sumur minyak pertama yang ditemukan di Malaysia, yang mengubah Miri dari desa nelayan – pesisir yang sepi menjadi kota industri minyak. Monumen berwarna merah menyala setinggi 30 meter tersebut terletak di halaman Muzium Petroleum.

The Grand Old Lady.

Namanya juga hill atau bukit, kawasan ini berada di daerah tinggi perbukitan. Jalan masuknya berkelok-kelok dan sepi. Beberapa pemukiman penduduk dapat ditemui di kaki bukit, tapi tidak ada lagi di atas.

Karena terletak di ruang terbuka dan udara panas sangat menyengat, kami tidak mendekati The Grand Old Lady. Hanya memperhatikan dari kejauhan, di bawah tempat yang teduh.

Muzium Petroleum, Kota Miri

 

13.00 – 14.00 : NGEMIL DI MAL

Karena waktu check in hotel masih satu jam lagi, kelar beranjangsana di kawasan Canada Hills, kami mampir ke Boulevard Mall, mal setempat. DI sana, kami hanya mengobrol, duduk-duduk, sambil menikmati kudapan.

14.00 – 16.30 : ISTIRAHAT DI HOTEL

Check in di Kingwood Hotel, sebuah hotel bergaya Inggris klasik yang terletak di pusat kota. Mengenai hotel ini akan saya ceritakan nanti.

Sampai di hotel, karena kelelahan, kami pun langsung tidur siang. Saya pesimis kami sanggup jalan- jalan di sore atau malam harinya. Tulang rasanya mau copot saking pegalnya.

16.30 : MENIKMATI SUNSET DI COCO CABANA

Merasa energi sudah sedikit terpulihkan, kami memutuskan untuk menikmati sunset di pantai Coco Cabana.

Gerbang Masuk Coco Cabana.

 

Coco Cabana bukan hanya sekedar pantai, tapi juga tempat rekreasi, olahraga, dan berkumpulnya warga lokal.

Menanti Senja di Coco Cabana.

 

Pemandangan ke Laut Lepas saat Senja.

 

Di sana, pengunjung dapat membeli makanan di berbagai kedai kecil yang ada, berfoto di ‘kebun buatan yang menyala’, bengong memandang senja di laut lepas, dan menikmati sirkus. Semua ini tidak gratis. Untuk masuk kawasan hiburan ini, pengunjung harus membayar 10 RM per orang. Untuk makan, nonton sirkus, bayarnya beda lagi.

Kebun Bunga ‘Menyala’.

 

Kebun Bunga Sebelum Gelap.

 

Coco Cabana di sore hari, pengunjungnya tumpah ruah. Kontras dengan ruas jalan lain di kota MIRI yang lengang, kemacetan melanda jalur menuju Coco Cabana ketika senja. Saking macetnya, kami sempat jalan kaki  sekitar satu kilometer sebelum akhirnya memesan Grab Car yang membawa pulang ke kota.

19.00 MAKAN MALAM DI RESTO AYAM PENYET

Makan malam di restoran bernama Ayam Penyet, yang terletak tak jauh dari Kingwood Hotel. Gedung restoran ini jadi satu dengan gedung Hotel Ano.

Mungkin karena lelah dan sumuk setelah berjalan satu kilometer dari Coco Cabana, resto Ayam Penyet ini laksana oase di padang pasir. Rasanya deeeemmm dan segerrrrr kena hawa AC dan meneguk dua gelas es lemon tea.

Kami memesan ayam bakar Garut dan es lemon tea. Resto ini tidak hanya menjual ayam saja, tapi juga ikan penyet, empal penyet, bahkan hingga terong penyet. Mereka juga menyediakan aneka sambal tradisional, yang menurut lidah kami sih … nggak pedas sama sekali haahaha …. Secara keseluruhan, kami puas makan di sini. Lumayan mengobati rasa kangen terhadap makanan Indonesia. Tempatnya juga nyaman. Tidak ada kesan sesak dan sumuk seperti kedai-kedai makanan ala ruko yang kami jumpai di Kinabalu atau Miri. Di Resto Ayam Penyet, kalian bisa ngadem menikmati sejuknya AC di tengah panasnya udara Borneo.

Minggu, 29 Juli 2018.

07.00 : Sarapan ala Aristokrat di Hotel. 

Ada yang unik dengan metode sarapan di Kingwood, yang berbeda dengan sarapan prasmanan di hotel lain pada umumnya. Nanti ya, saya ceritakan dalam artikel tersendiri!

08.00 – 11.30 : Leyeh-leyeh di Kamar.

Simpan tenaga. Kami akan menempuh pernerbangan yang cukup lama : Miri – Kuala Lumpur, dan Kuala Lumpur – Jakarta.

12.30 : Check Out dari Hotel, Menuju Miri Airport.

Jalan dalam kota macet karena sedang ada semacam festival atau pasar tumpah di sini.

SERBA SERBI MIRI

  • Terletak di negara bagian Sarawak. Berjarak 800 km dari Kuching, ibukota Sarawak.
  • Hanya dua jam perjalanan ke Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam (142 km). Dianggap sebagai tempat tetirah warga Brunei.
  • Kota kecil, lengang … tidak banyak objek wisata menarik di kota kecil ini. Objek wisata alam yang bersifat petualangan lebih banyak terdapat di luar area kota Miri.
  • Selama di sini, jarang ngeliat bus. Transportasi dalam kota menggunakan Grab Car, dengan tarif 4 – 8 RM untuk jarak pendek dan menengah.
  • Tarif Grab Car Kota Miri – Bandara sekitar 15 RM. Sementara bila menggunakan taksi, tarifnya adalah 25 RM.
  • Kedai makan, mal, dan hotel banyak terdapat di sekitar jalan Yu Seng dan jalan Merpati.
  • Sopir Grab Car yang kebanyakan kami jumpai adalah anak muda yang necis.
  • Suhu udara 24 – 31 derajat celcius.
  • Biaya makan sekitar 3- 10 RM per orang per sekali makan di kedai biasa. Jika di restoran, sekitar (minimal) 15 RM per orang per sekali makan.

 

Salam,

@Melok Roro Kinanthi

 

Check Also

Naik Pesawat Kecil, Mendarat di Bandara Kecil (#SelayarTrip)

Salah satu hal yang paling saya nantikan dari perjalanan ke Pulau Selayar adalah merasakan naik ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *