Sunday , 18 November 2018
Home / Kebetulan Jalan-jalan / 5 Bandara dan 5 Pelabuhan dalam 7 Hari

5 Bandara dan 5 Pelabuhan dalam 7 Hari

Yepp …. tidak salah. Kami singgah di lima bandara dan lima pelabuhan dalam perjalanan ke Borneo Utara, 22 – 29 Juli 2018 lalu. Seharusnya, bahkan enam jika bandara Soekarno Hatta Cengkareng – tempat kami memulai dan mengakhiri perjalanan ini – juga dihitung.

Ini adalah perjalanan pertama kami yang bersifat medley. Saya mengistilahkannya seperti itu karena kami berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Dari satu pulau ke pulau lain. Dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Dari satu negara ke negara lain.

Banyak hal mengesankan yang kami temui selama perjalanan tujuh hari itu. Untuk meringkasnya, saya akan menyajikan dalam tanya jawab berikut ini.

*

Kemana saja rutenya?

Jakarta –  (singgah di) Tarakan – Pulau Sebatik – (singgah di) Pulau Nunukan – (singgah di) Tawau – Kota Kinabalu – Miri – (singgah di) Kuala Lumpur – Jakarta.

*

Bagaimana persiapannya?

Lebih detil dari perjalanan kami biasanya. Medan yang “unik” dan jatah bagasi pesawat yang minim (maklum tiket muraah hahaha..), membuat kami harus memperhitungkan barang-barang yang dibawa.

Karena kami akan menaiki perahu kecil dan ojek motor, maka ukuran tas yang dibawa tidak bisa terlalu besar. Biasanya kami membawa satu tas atau koper besar untuk berdua. Dalam perjalanan kali ini, masing-masing membawa satu tas pakaian kecil.

Kami juga tidak bisa membawa banyak pakaian karena akan mempengaruhi bobot tas. Untuk 7 hari perjalanan, kami hanya membawa 4 pasang pakaian. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa laundry begitu tiba di Kinabalu.

Oya, selain pakaian, kami juga membawa pelampung sendiri! Ini karena menjelang keberangkatan kami, terjadi beberapa peristiwa tenggelamnya kapal di perairan Indonesia. Kami tidak bisa memastikan apakah kapal atau perahu yang akan kami naiki menyediakan pelampung. Jadi sebaiknya bawa sendiri saja dari rumah. Hehehe …

Jumlah keseluruhan berat barang bawaan kami adalah 21 kilogram. Ini sudah termasuk satu tas ransel berisi laptop yang kami bawa ke kabin pesawat.

Dua tas bermotif pada foto di bawah ini berisi pelampung. Enteng! Saking ringannya, saat hendak dimasukkan ke bagasi pesawat, tas ini dikenakan alat khusus oleh petugasnya.

*

Bandara Apa Saja yang Dilalui?

Bandara Internasional Juwata (Pulau Tarakan), Tawau Airport (Kota Tawau), Kota Kinabalu International Airport, Miri Airport, dan Kuala Lumpur International Airport.

Bandara Juwata, Pulau Tarakan.

*

Pelabuhan Apa Saja yang Disinggahi?

Pelabuhan Tengkayu (Pulau Tarakan), Pelabuhan Sei Pancang (Pulau Sebatik), Pelabuhan Bambangan (Pulau Sebatik), Pelabuhan TunonTaka (Pulau Nunukan), Pelabuhan Tawau (Kota Tawau).

Suasana Pelabuhan Tengkayu, Pulau Tarakan.

 

Speed Boat di Pelabuhan Tengkayu, Pulau Tarakan.

 

Pelabuhan Sei Pancang, Pulau Sebatik.

*

Episode yang Paling Menyeramkan?

Sewaktu kami menyebrang dari Pelabuhan Bambangan (Pulau Sebatik) menuju Pelabuhan TunonTaka (Pulau Nunukan) dengan perahu motor. Perahunya kecil saja dengan kapasitas enam penumpang (waktu itu hanya terisi empat).

Pelabuhan Bambangan, Pulau Sebatik, Kaltara.

 

Hal yang membuat saya merasa seram adalah karena nakhoda mengemudikan perahu dengan sangat kencang, mirip dengan sopir metromini di Jakarta.. plus, tanpa pengaman! Tidak ada pelampung. Tidak ada safety belt. Perahu tidak berpintu pula alias terbuka  Kami hanya berpegangan di badan perahu, sambil menahan terpaan angin dan cipratan air laut.

Perahu motor sederhana, sarana transportasi Pulau Sebatik – Pulau Nunukan.

 

Waksss… saya ngeri kalau perahu kami terbalik. Saking ngerinya, saya sampai bilang ke nakhoda, “Pak, jangan kencang2!”, yang sukses membuat dua orang Ibu yang duduk di depan saya bengong wkwkw… Mereka makin bengong manakala melihat saya pakai jaket pelampung (bawa sendiri dari rumah hahaha…).

*

Penantian Terlama?

Saat menunggu penerbangan ke Kota Kinabalu di bandara Tawau. Kami tiba di bandara pukul 14.30, sementara pesawat take off pukul 21.30 (yang kemudian ditunda hingga pukul 22.30!).

Kami sengaja memilih penerbangan paling malam ke Kota Kinabalu dengan pertimbangan tidak bisa memperkirakan durasi perjalanan Pulau Sebatik – Pulau Nunukan – Tawau. Jadwal penyebrangan kapal sama sekali tidak bisa kami dapatkan di internet. Tiket pun harus membeli di tempat. Karena nggak mau ketinggalan pesawat karena hal- hal di luar kendali, akhirnya kami memilih penerbangan terakhir di hari itu.

Ternyata, penyebrangan antar pulau yang kami tempuh relatif lancar. Kami tak perlu menunggu lama ketika tiba di pelabuhan Bambangan atau TunonTaka : kapal langsung berangkat ke tujuan. Walhasil, kami tiba di bandara Tawau lebih cepat.

*

Episode yang Paling bikin Deg-degan?

Saat pemeriksaan imigrasi di Pelabuhan Tawau!

Suasana formil dan hawa ketegasan sudah kami rasakan begitu kapal yang membawa kami berlabuh di dermaga Tawau. Kami dan puluhan penumpang lainnya dari Nunukan diminta untuk berbaris satu per satu, menunggu antrian menimbang barang. Imigrasi Tawau menetapkan berat maksimal barang yang dibawa pelancong, yakni 20 kilogram. Jika melebihi, maka dikenakan denda sebesar RM 1,30 per kilogram.

Antri untuk Timbang Barang di Tawau Port saat Baru Turun dari Kapal.

 

Setelah menimbang barang, kami diminta antri kembali untuk chop (istilah setempat untuk membubuhkan cap) paspor. Ada tiga jalur antrian : untuk TKI, WNI, dan warga negara Malaysia. Jalur antrian untuk WNI … mengular! Kami harus berdiri sambil menenteng bawaan selama sekitar satu jam, dari pukul 12.00 – 13.00 waktu setempat.

Oya, seluruh proses yang kami jalani di sini, mulai dari turun kapal, timbang barang, hingga chop paspor, semua diawasi oleh petugas keamanan bertampang tegas. Doski sempat ditegur karena memotret antrian dan diminta menghapus fotonya hihi… *salah kami juga sih, nggak memperhatikan papan dilarang memotret di sini.

Ketika tiba giliran chop paspor, kami mendapat pertanyaan yang agak menyelidik, “Kalau memang mau ke Kinabalu, kenapa nggak ambil penerbangan langsung dari Jakarta saja?”.

Maklum, Pakcik Makcik, kami sedang kurang kerjaan ahahaha …

*

Episode Paling Absurd?

Waktu nonton film percintaan anak SMA dengan setting tahun 90an yang lagi ngehitzz itu diatas kapal dari Pulau Tarakan menuju Pulau Sebatik. Yeaaaahhh… kalian taulahhh apa judulnya hihi ..

Terasa absurd karena … Ya Allah.. sepanjang filmnya, isinya cuma adegan rayuan gombal dari si cowok ke si cewek. Akhirnya, eke tinggal tidur aja!

*

Serba – Serbi Transportasi dan Akomodasi Pulau Tarakan – Miri.

Berikut adalah informasi yang mungkin dibutuhkan pelancong lain dengan tujuan perjalanan yang sama.

  • Ongkos taksi dari Bandara Internasional Juwata (Tarakan) ke Pelabuhan Tengkayu (Tarakan), Rp. 65.000, dengan waktu tempuh 15 menit.
  • Tiket kapal “Sadewa Sebatik” dari Pelabuhan Tengkayu menuju Pelabuhan Sei Pancang (Kota Sei Nyamuk, Pulau Sebatik), Rp. 230.000 per orang. Jadwal kebarangkatan paling pagi jam 09.30. Sementara, kami berangkat dengan kapal berjadwal jam 11.30. Waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Nomer telepon loket Tarakan : 0812 5777 8003. Nomer telepon loket Sei Nyamuk : 0853 8953 0889.
  • Ojek dari Pelabuhan Sei Pancang menuju kota Sei Nyamuk (Pulau Sebatik), Rp. 30.000 per ojek.
  • Sewa motor untuk transportasi selama di Pulau Sebatik, Rp. 100.000 per hari. Sementara, kalau sewa mobil Rp. 300.000 per hari.
  • Perahu motor dari Pelabuhan Bambangan (Pulau Sebatik) menuju Pelabuhan TunonTaka (Pulau Nunukan), Rp. 25.000 per orang. Waktu tempuh 15 – 20 menit. Ada biaya retribusi masuk pelabuhan Rp. 4000 … kalo gak salah.
  • Tiket kapal “Purnama” rute Pulau Nunukan – Tawau (CV. Aisyah Hani), Rp. 240.000 per orang. Waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Pemeriksaan paspor dilakukan juga di dalam kapal.
  • Taksi dari Pelabuhan Tawau ke Bandara Tawau, RM. 50.
  • Taksi dari Bandara KKIA ke Kota Kinabalu, RM.50. Grabcar dari Kota Kinabalu ke Bandara KKIA bisa lebih murah setengahnya.
  • Taksi dari Miri Aiport ke Kota Miri, RM.25 – RM.26. Grabcar dari kota ke bandara, sekitar RM. 15.
  • Biaya makan di restoran di mal atau di bandara mulai RM. 15 per orang per porsi per sekali makan.
  • Biaya makan di kedai biasa RM.3 – RM. 10 per orang per porsi per sekali makan.
  • Disediakan pelampung di kapal besar (Tarakan – Sebatik dan Nunukan – Tawau). Sementara itu, perahu motor (Sebatik – Nunukan) tidak menyediakan pelampung.

Oke, itu saja yang dapat kami ceritakan dalam perjalanan kali. Walau melelahkan, tapi kami tidak kapok dan pengen melakukan medley trip lagi!

Ada ide?

 

Tanah Kusir, September 2018

@Melok Roro Kinanthi.

Check Also

Naik Pesawat Kecil, Mendarat di Bandara Kecil (#SelayarTrip)

Salah satu hal yang paling saya nantikan dari perjalanan ke Pulau Selayar adalah merasakan naik ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *