Sunday , 18 November 2018
Home / Apa yang Sebaiknya Dilakukan Bila Anda Terdiagnosis “Pro IVF”?

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Bila Anda Terdiagnosis “Pro IVF”?

Hola! Menjelang pelaksanaan IVF siklus ketiga, saya jadi ingin berbagi (lagi) melalui tulisan berikut ini.

Di siklus yang ketiga ini, kami merasa lebih santai. Selain itu, kami juga percaya diri bisa menghadapi apa pun situasi yang terjadi dengan lebih tenang dan (semoga!) lebih bijaksana. Setelah semua badai berhasil dilewati pada siklus pertama dan siklus kedua lalu, saat ini kami merasa sudah lebih berpengalaman (*ehem! ahahaha….).

Memang, butuh proses dan pembelajaran yang tidak instan untuk akhirnya bisa sesantai ini. Kalau menerawang kembali ke belakang, saya ingat betul saat pertama kali menjalani IVF siklus pertama (fresh cycle) kami merasa tegang, cemas, tertekan, dan “lebayyyy” hehehe … Yah, pokoknya begitulah. Apalagi ketika kemudian hasilnya belum sesuai harapan …. wah! Saya merasa jadi drama queen sejagat hehehehe…

Saya berharap tulisan ini bukan hanya membantu our fellow IVF survivor, tapi juga orang-orang di sekitar mereka untuk memahami apa itu IVF, situasi psikis yang dialami IVF survivor, dan lain sebagainya. Diharapkan, dengan adanya pemahaman ini, mereka bisa menyikapi secara tepat.

Tulisan ini lebih berfokus pada aspek psikologis IVF. Adapun informasi tentang hal-hal teknis terkait IVF bisa dibaca juga di www.alodita.com, blog milik celebrity blogger yang juga merupakan IVF survivor (dan berhasil!). Sharing pengalaman lainnya bisa juga dibaca melalui forum-forum IVF di internet.

***

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan jika Anda (atau keluarga, teman, kenalan Anda) terdiagnosis Pro IVF atau harus menjalani IVF?

Simak beberapa tips berikut.

1. Menerima Emosi-emosi yang Dirasakan

Saat pertama kali didiagnosa harus menjalani IVF, tentu saja kami kaget. Duluuuuu bangeetttt, waktu masih lajang, saya pernah menonton tayangan infotainment tentang public figure yang menjalani IVF. Ketika itu, sama sekali tidak terpikirkan bahwa sekian tahun kemudian, saya dan suami akan menjalaninya hehe …

Selain kaget, emosi lain yang kami rasakan adalah : penuh kekhawatiran (mampu nggak kami menjalani semua itu? bagaimana kalau gagal? bagaimana dananya? apa kata orang nanti?), menyalahkan diri sendiri (apa dosa kami terlalu besar? apa karena kami kurang menjaga kesehatan?), sedih (sampai nangis berdua di mobil begitu pulang dari rumah sakit), dan bingung.

Jadi, ketika Anda merasakan emosi-emosi seperti itu saat pertama kali didiagnosis Pro IVF, itu adalah hal yang manusiawi. Anda tidak sendiri. Orang lain (paling tidak, kami) juga merasakan emosi yang sama.

Tidak apa-apa untuk merasa khawatir, menyalahkan diri sendiri, sedih, bingung, dan sejenisnya, asalkan tidak berlarut-larut serta dapat Anda kelola dengan tepat dan sehat. Bergabung di komunitas support group IVF atau membaca pengalaman sesama IVF survivor, dapat membantu kita mengelola emosi negatif dan menumbuhkan emosi positif.

Oiya, yang juga penting adalah tidak saling menyalahkan antara suami dengan istri. Fokus pada apa yang dapat kita lakukan, bukan pada apa yang menyebabkan. Jangan menghabiskan energi untuk konflik yang tidak perlu. Tetap kompak!

2. Menimbang Berbagai Aspek untuk Mengambil Keputusan yang Tepat

Ketika diagnosis Pro IVF sudah ditegakkan dokter, maka (menurut kami ) keputusan berikutnya ada di tangan pasutri yang bersangkutan : apakah akan menjalani IVF atau tidak.

Keputusan tersebut tentunya sangat personal, tergantung keadaan masing-masing. Ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum memutuskan apakah akan melakukan IVF atau tidak, yakni : prioritas hidup, nilai-nilai yang dianut, ketersediaan dana, kesiapan mental dan fisik, waktu yang dimiliki (termasuk usia pasutri), komitmen, dan sebagainya. Kalau diperlukan, Anda bisa juga melakukan urun rembug dengan keluarga lain, selain pasangan.

Tidak ada yang salah dengan keputusan apa pun yang Anda ambil, sepanjang Anda telah mempertimbangkannya dengan matang, menyadari konsekuensi yang mungkin ditimbulkan, dan meyakini bahwa hal itu adalah keputusan terbaik yang dapat diambil pada saat itu.

Apa pun keputusan yang Anda ambil (tidak menjalani IVF, menundanya, atau melakukan segera), yang terpenting adalah Anda dan pasangan dapat menjalani hidup secara bermakna.

Mungkin akan ada orang-orang yang menghakimi keputusan yang Anda ambil, maka maklumi saja. Mereka menghakimi, karena tidak memahami situasi Anda. Mereka tidak berada di sepatu Anda. Seperti kata sebuah kutipan yang saya temukan di Pinterest, “From the outside looking, you can’t understand it. From the inside looking, you can’t explain it”.

3. Selamat Datang, Ketidakpastian!

Ketika Anda memutuskan menjalani IVF, maka langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian.

Dari awal hingga akhir proses, Anda akan menemui banyak ketidakpastian. Contoh paling sederhana adalah jadwal periksa ke dokter. Kapan Anda berkunjung ke dokter ditentukan oleh saat menstruasi Anda. Pada umumnya, untuk memulai suatu siklus IVF, dokter akan meminta Anda untuk datang pada hari kedua menstruasi. Nah, tantangannya adalah Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) perempuan selalu berubah setiap bulannya. Menjadi semakin menantang, ketika Anda adalah perempuan pekerja atau menjalani profesi tertentu. Seperti saya, misalnya, yang dulu suka mengira-ngira, “Apakah hari kedua menstruasi bertepatan dengan jadwal mengajar, menguji, rapat, atau agenda penting lainnya yang tidak bisa digeser?”.

Dulu saya termasuk yang deg-degan menghadapi ini. Sekarang mah sudah lebih santai. Yo wes, terima saja. Kalau bulan ini belum bisa, ya bulan berikutnya saja. Allah lebih tahu waktu yang terbaik untuk kita.

Hal lain yang tidak pasti adalah jadwal Ovum Pick Up (OPU), Kultur Embrio, dan Embryo Transfer (ET). Ini tingkat ketidakpastiannya lebih tinggi lagi hahaha…. semua sangat tergantung pada kondisi tubuh. Jadwal OPU saya sempat meleset 1-2 hari karena ovum yang dihasilkan belum berkembang sesuai harapan pada hari yang telah tentukan. Akhirnya dokter meningkatkan dosis Gonal yang harus kami suntikkan di perut saya setiap hari. Demikian pula, saat kultur embrio dan ET. Ini juga bikin deg-degan. Untuk kasus tertentu, kita tak pernah tahu bagaimana jumlah dan kualitas sperma yang dihasilkan untuk dapat membuahi ovum. Saat proses pembuahan pun, kita tidak pernah tahu berapa jumlah embrio yang bisa dihasilkan, bagaimana kualitasnya, dan sejauhmana kondisi rahim dianggap siap menerima transfer-an embrio.

Dan ….. puncak dari segala ketidakpastian itu adalah saat kita menerima rapor alias hasil IVF, dua minggu setelah ET. Tidak ada manusia terpandai sekali pun yang bisa menjamin bahwa seluruh proses IVF yang kita jalani dari awal hingga akhir akan memberikan hasil yang diharapkan. Dokter terhebat, peralatan tercanggih, prosedur terbaik, semua tunduk di bawah kekuasaan Allah.

Apa yang bisa dilakukan dengan segala ketidakpastian itu?

Jawabannya : nikmati saja. Hey, tidak semua orang diberi keistimewaan untuk mengalami ketidakpastian IVF seperti kita kan? hehe..

Jadikan ketidakpastian tersebut sebagai sarana untuk memperoleh ketrampilan baru seperti kemampuan menerima apa yang tidak bisa dikendalikan, kemampuan melihat sisi positif dari setiap situasi, kemampuan bersyukur dan sebagainya.

Btw, kalau memang proses ini sedemikian tidak pasti dan tidak dapat memberikan jaminan keberhasilan sekalipun, lantas mengapa kami tetap menjalaninya?

Jawabannya ada dalam kutipan yang saya comot dari Pinterest, “It is the possibility that keeps us going, not the guarantee”.

4. Ikhlas dan Tetap Berprasangka baik kepada Allah

Seperti kata almarhum Gareng Rakasiwi, seorang pelawak, “Ikhtiar itu kewajiban. Hasil itu pandum”. (Pandum = Pemberian Tuhan).

Lakukan yang terbaik, berdoa, lalu ikhlaskan apa pun hasilnya. Tetap yakin, bahwa kasih sayang Allah lebih besar dari yang kita kira.

***

Demikian, semoga bermanfaat. Menutup tulisan ini, sepertinya lagu “Film Favorit” dari Sheila on 7 cocok untuk menyemangati para IVF survivor (Sumber : channel youtube Sheila on 7 TV).

 

 

Tanah Kusir, Sabtu, 17 Maret 2018

@Melok Roro Kinanthi

Check Also

Kangen Kuliner Berjarak 1400 KM dari Jakarta (#SelayarTrip)

Padahal ketika pertama kali membaca di blog tentang kuliner di Selayar, saya mengernyitkan dahi, “Apa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *