Sunday , 18 November 2018
Home / Kebetulan Ada Info / (#Book Of The Month) Hajj: Reflection on Its Ritual

(#Book Of The Month) Hajj: Reflection on Its Ritual

Mengawali tulisan ini, saya ingin menceritakan apa yang membuat saya membeli bukunya Ali Shariati yang berjudul Hajj: Reflection on Its Rituals.

Keinginan untuk membaca buku tersebut timbul setelah saya menjalani ibadah umroh mendadak.

Tanpa pengalaman tersebut, barangkali saya tak akan pernah terpikirkan untuk mencari tahu apa sesungguhnya berhaji itu.

Tanpa pengalaman tersebut, mungkin ketika suatu saat berhaji, saya melakukan itu hanya sekedar menggugurkan untuk kewajiban.

***

Dulu saya termasuk orang yang sulit terpanggil untuk beribadah ke tanah suci.

Biaya sebenernya ada. Tapi entahlah, rasanya males aja. Bukan prioritas dalam hidup. Masih nanti-nanti. *istighfar*

Saking belum dapet hidayahnya, dulu saya suka heran, “Kenapa sih orang bolak balik ke Tanah Suci?”.

Hingga suatu hari, Etek (tantenya suami) yang sudah berusia 80 tahun pengen umroh.

Saya dan doski dimintai tolong untuk men-survei biro travel.

Semua biro travel yang kami datangi mensyaratkan hal yang sama: harus ada yang mendampingi Etek yang sudah sepuh. Itu syarat yang tak bisa ditawar.

Maka, sibuklah kami berdua menghubungi saudara dan kenalan, menanyakan apakah ada yang berniat umroh di tahun itu agar bisa menemani Etek?

Tak ada satu pun yang bisa.

Bingunglah kami. Apalagi Etek sudah sangat ngebet umroh.

Entah dapat ilham dari mana, tiba2 doski mencetuskan sebuah ide, “Kenapa nggak kita aja yang nemenin Etek?”

Heh. Apa?

Hidup saya waktu itu lagi ribet dikejar deadline disertasi. Harus lulus kuliah sesegera mungkin.

Setahu saya, setidaknya umroh membutuhkan waktu sembilan hari.

Men, sembilan hari? Kalau buat ngerjain disertasi, sudah berapa lembar yang bisa dihasilkan?

Tapi toh, mau nggak mau, akhirnya saya (dan doski) berangkat juga ke tanah suci untuk nemenin Etek.

Konyolnya, saya malah membawa-serta berkas2 disertasi yang harus dikerjakan. Berharap bisa mencuri waktu hahaha..

Di pesawat, dalam perjalanan menuju Jeddah, saya masih sempet-sempetnya membaca verbatim responden penelitian saya. Demikian juga di bis, saat bertolak dari Jeddah menuju Madinah.

Sungguh sangat duniawi sekali hehehe … *getok*

Setelah ditegur Etek, barulah saya berusaha fokus.

Mungkin karena pengetahuan yang minim (walau udah ikut manasik hehe…) dan iman yang tipis, dalam perjalanan ke Mekkah, pikiran saya malah mengembara. Bertanya-tanya, kenapa kita harus mengelilingi kotak hitam bernama Ka’bah?

Kenapa harus sai?

Kenapa harus ber-ihram?

Kenapa harus berhaji?

Dan seterusnya.

Untungnya, masih tersisa sedikit kewarasan dalam diri saya.

Sambil berulang kali istighfar, saya berkata dalam hati bahwa saya masih terlalu bodoh untuk memahami itu semua.

Saya meyakinkan diri sendiri, “Udeh lu, nggak usah banyak cincong. Sami’na wa atho’na aja. Saya dengar dan saya taati”.

Maka, meski tanpa memahami makna thawaf seutuhnya, saya tetap melakukannya dengan meniatkan hal tersebut semata-mata sebagai bentuk pengabdian saya pada Allah.

Saat itulah saya berjanji sepulang dari Tanah Suci saya harus mencari tahu tentang makna berhaji.

***

MENEMUKAN BUKU INI

Pencarian tentang makna haji membuat saya menemukan buku ini, Hajj: Reflection on Its Rituals karya Ali Shariati.

Saya membelinya tahun 2014 di Amazon, tapi baru sempat membacanya Ramadhan tahun ini.

Ali Shariati, penulis buku ini, merupakan tokoh pergerakan Islam dari Iran. Ia meninggal di usia muda, 44 tahun, pada tahun 1977.

Shariati menulis bukunya bukan dalam bahasa Inggris. Mungkin bahasa Arab.

Ia menulis dengan gaya bahasa prosa-puisi, yang mencerminkan semangat dan intelektualitas yang dipupuk oleh Quran, Sunah, dan kebijaksanaan (demikian kata Sayyid Gulzar Haider, dalam kata pengantar).

Edisi bahasa Inggris buku ini dialihbahasakan oleh Laleh Bakhtiar, seorang doktor yang mempelajari Sejarah, Hukum, Filosofi Islam, serta Psikologi Pendidikan dan Psikologi Konseling.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian.

Bagian pertama menbahas shorter hajj (umra), sementara bagian kedua mengenai the longer pilgrimage (tamattu).

Saya baru membaca bagian pertama.

Saya akan mencoba menuliskan intisari dan mengutip apa yang ada di buku ini.

Harapannya, agar orang-orang yang seperti saya dulu (mempertanyakan kenapa harus berhaji, tawaf, sai, endesbre, endesbro), dapat memperoleh pemahaman dari sini.

Oya, karena isinya banyak, saya akan menuliskannya bertahap.

***

KENAPA BER-HAJI?

Allah menciptakan manusia dengan fitrah yang baik, suci. Kepadanya, ditiupkan spirit Ketuhanan.

Allah meninggikan derajat manusia, menjadikannya murid teristimewa, khalifah yang diberi kepercayaan sedemikian tinggi hingga diserahkan padanya bumi beserta isinya.

Tapi kemudian apa yang terjadi?

Sejarah, kehidupan, dan sistem sosial yang tidak manusiawi menjadikan manusia terasing dari dirinya, dari fitrahnya.

Manusia bukan lagi anak-anak Adam, melainkan sosok asing. Bukan lagi khalifah Allah. Penuh dengan kotoran. Kopong. Aneh.

Kemana spirit atau ruh Ketuhanan yang ditiupkan Allah ke dalam diri manusia yang awalnya berupa tanah liat kotor dan jasad mati itu?

Maka berhaji-lah untuk menemukan kembali spirit Ketuhanan dalam dirimu.

Untuk menyucikan diri.

Untuk kembali ke fitrah.

Haji adalah sebuah pergerakan.

Pergerakan yang membawa kita “keluar” dari diri yang sudah dipenuhi nafsu-kebohongan-keserakahan-keburukan-kebinatangan-kedangkalan-kekosongan, – untuk kembali ke dalam kondisi fitrah.

Temui Tuhanmu di rumahNya. Datanglah dengan membawa semua kotoran dan aib yang ada.

Dengan ber-haji, manusia menyucikan diri, kembali kepada fitrah.

Sucikan diri. Lepaskan diri dari dunia, yang penuh aib, keburukan, dan bersifat dangkal.

***

KA’BAH

Ketika kain penutup ataukelambunya disibakkan, Ka’bah merupakan sebuah kubus yang kosong. Di dalamnya tak ada apa pun. Hanya sebuah ruangan yang kosong.

Tidak ada hiasan. Tidak ada keindahan. Tidak ada prasasti yang berisi tulisan-tulisan yang dipahatkan. Tidak ber-ubin. Tidak ada makam atau nisan Nabi, Imam, yang dapat diziarahi.

Tidak ada apa-apa di dalamnya. Tidak ada siapa-siapa.

“Why a cube? Why so simple, without distinction or ornament? God is shapeless, colorless, without similarity” (h.78).

Hakikat berhaji adalah bukan mengunjungi kuil atau tempat suci. Ka’bah sejatinya adalah sebuah tanda, yang menunjukan arah pada manusia untuk kembali ke fitrah dan melepaskan keduniawian.

Ka’bah memandu manusia untuk kembali kepada Tuhannya, melalui ritual Haji.

***

THE SEASON (MU’SIM)

Haji dilaksanakan pada bulan Dhihajjah, bulan penghormatan. Pada bulan ini peperangan dihentikan, untuk memberi kesempatan pada kedamaian, peribadatan, dan keamanan.

Dengan ber-haji, manusia membebaskan dirinya dari keduniawian yang kotor dan dangkal. Lepaskan diri dari individualitas yang menyesakan.

Sebelum berangkat ke tanah suci untuk berhaji, manusia hendaknya membayar hutang, membersihkan noda, menghilangkan kebencian, dan meminta maaf kepada orang lain. Buatlah wasiat, anggaplah akan pergi tanpa kembali.

Laksana persiapan menghadapi kematian, lepaskan segala keterhubungan kita dengan duniawi untuk menyongsong keabadian.

 ***

KENAPA BER-IHRAM?

Pakaian yang dikenakan manusia sehari-hari adalah sebuah tanda, sebuah pembatas, cerminan derajat, titel, dan keistimewaan yang dimiliki si pemakai.

Pakaian merupakan penanda ke-aku-an. Aku. Bukan kamu. Bukan kami.

Pakaian juga menandakan adanya perbedaan, diskriminasi, pembatas, dan keterpisahan antara aku dan kamu. “Aku” di sini dapat berupa ras, kelas, kelompok, keluarga, bangsa, situasi, atau individualitas.

Ketika berhaji, hendaknya manusia menghilangkan semua perbedaan dan sekat. Kain ihram yang berwarna putih melambangkan keselarasan dengan semua “warna”.

Dengan mengenakan ihram, yang berwarna putih, manusia menjadi partikel kecil yang menyatu dengan partikel-partikel kecil lainnya – sesama jamaah haji yang juga ber-ihram.

Singkirkan semua tanda, ciri, ornamen, dan warna yang melekat pada dirimu.

Lupakan apa yang dilekatkan dunia pada dirimu.

***

 

Bersambung …

Libur Ramadhan, Kamis, 22062017

@Melok Roro Kinanthi

Check Also

Pengalaman Ikut Sertifikasi Dosen 2015 (bagian 1)

“Rasanyaa pengeeen banget berpelukan dengan mbak Melok dan mbak Ade”, demikian kata Inka, rekan saya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *