Wednesday , 17 April 2019
Home / Kebetulan Hobi / BULUTANGKIS: KUTIPAN KLIPING KORAN

BULUTANGKIS: KUTIPAN KLIPING KORAN

Hobi mengamati dunia perbulutangkisan, membawa saya menjadi kolektor berita-berita bulutangkis. Dengan tekun saya mengumpulkan dan menggunting satu-persatu informasi mengenai bulutangkis yang dimuat di koran. Andalan saya ketika itu adalah harian KOMPAS dengan tim peliputnya yang saya kagumi, yakni Brigitta Isworo Laksmi (isw), Muhammad Bakir (mba), Hendry Ch. Bangun serta seorang fotografer yang kerap memotret momen bulutangkis: Arbain Rambey (arb).

KLIPING HILANG

Seiring dengan meredupnya minat saya terhadap bulutangkis, semua kliping yang saya kumpulan sejak 1996 s/d 1999 tercecer tak berbekas. Ada yang hilang, ada yang diminta adik untuk tugas sekolah, dan sisanya saya buang karena ketika itu tak pernah terbayangkan dalam benak bahwa saya akan kembali menekuni badminton lagi. 

Kalau dipikir-pikir rasanya sayang juga ya kliping-kliping tersebut hilang entah kemana. Padahal kliping merupakan salah satu arsip yang sangat berharga, yang dapat memberikan informasi mengenai perjalanan dunia bulutangkis Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya. 

THOMAS – UBER MELODRAMATIK

Salah satu kliping artikel  yang saya miliki ketika itu adalah profil Hendrawan, yang dimuat Harian Kompas ketika Indonesia memenangi Kejuaraan beregu piala Thomas 1998. Bagaimana seorang Hendrawan, yang merasa dirinya sudah ‘habis’ karena seret prestasi bisa memacu dirinya kembali dan menjadi pahlawan Thomas 1998. Selain profil Hendrawan, KOMPAS –melalui tulisan Brigitta Isworo Laksmi—juga menulis profil alm. Agus Wirahadikusuma, manajer tim beregu Indonesia dalam laga supremasi beregu putra di Hongkong kala itu. Artikel itu menulis perjuangan tim Indonesia di negara pecahan Cina tersebut tidak mudah. Bertepatan dengan digelarnya kejuaraan beregu Thomas-Uber, pada saat yang sama negara kita sedang dilanda duka hebat: kerusuhan Mei 1998.  Brigitta –yang saat ini menangani desk Humaniora—menulis bagaimana perjuangan pak Agus menenangkan tim bulutangkis Indonesia yang mayoritas adalah etnis Tionghoa. Pak Agus, selaku manajer, turun tangan sendiri mencari informasi keberadaan keluarga para atlet. Walhasil, kemenangan tim Thomas dan Uber Indonesia kala itu menjadi headline yang melodramatic di harian milik Jakob Utama itu.

ATLANTA 1996

Arsip lain yang ketika itu saya miliki adalah liputan mengenai pertandingan bulutangkis dalam Olimpiade Atlanta 1996. Sebagai preview (yang menjadi headline utama dengan foto defile kontingen Indonesia pada pembukaan Atlanta), KOMPAS menyebutkan bahwa Bang Shoo Hyun dan Susi Susanti berada dalam grup undian yang sama pada ajang olahraga akbar sedunia tersebut. Kemenangan Mia Audina, yang berhasil meraih medali perak dalam 100 tahun olimpiade ini, juga sempat menjadi headline.

ERA 1960an DAN 1970an

Ada lagi artikel mengenai lika-liku bangsa Indonesia merebut piala Thomas tahun 1960an dan 1970an dari majalah Intisari. Intisari terbitan tahun 1980an itu menapak tilasi sembilan partai dalam final piala Thomas antara Indonesia dan Malaya serta pertandingan final antara Indonesia dan Denmark pada tahun yang lain. Dari artikel itulah saya pertama kali mengenal laskar-laskar pemain bulutangkis jadul seperti Tan Joe Hok dari Indonesia, Eddy B. Choong dari Malaysia, sampai Erland Kopss dan Svend Pri dari Denmark.

Dalam salah satu artikel tersebut disebutkan bahwa sebelum memenangi Piala Thomas dari Malaya, regu Indonesia sempat dibikin ketar ketir karena hari sebelumnya tertinggal angka dari Malaysia. Fyi, karena dahulu memainkan sistem 9 partai, maka final piala Thomas diadakan 2 hari. Terkait dengan hal ini, KOMPAS edisi Thomas Uber 1996, juga menulis bahwa dahulu sempat ada isu bahwa tim Indonesia diguna-guna oleh Malaya dalam salah satu partai final era 1960an atau 1970an. Seorang saksi mata menyebutkan salah seorang pemain Indonesia terlihat bengong dan linglung ketika menghadapi pemain Malaya di lapangan.

Intisari juga memuat artikel mengenai perjalanan Indonesia untuk merebut piala Uber pertama kali pada kejuaraan tahun 1975 di Jakarta. Dalam artikel tersebut juga dimuat foto Minarni dkk  yang sedang mencium sang piala.

Melalui sebuah arsip, bulutangkis sebagai olahraga pengharum nama bangsa, bisa dikatakan sebagai ‘sejarah’ dan perjalanannya layak untuk diketahui oleh generasi penerus. Dengan demikian, anak muda Indonesia tidak hanya sekedar mengagumi ketampanan Taufik Hidayat saja, namun juga mengetahui bagaimana lika-liku perjuangan para atlet senior di dunia perbulutangkisan. 

Check Also

Eksis, Meski Tak Setenar Lin Dan

[Tulisan lawas ini pernah saya publikasikan dalam situs bulutangkis.com pada 2010]. * Ada lima negara ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *