Sunday , 18 November 2018
Home / Hari #FET

Hari #FET

FET kami yang kedua dilaksanakan Senin, 26 Maret 2018 pukul 15.00 WIB di klinik Yasmin IVF – RSCM Kencana. Suster klinik menginformasikan kami untuk tiba di lokasi satu jam sebelumnya, yakni pukul 14.00 WIB. Karena sudah pernah menjalani embryo transfer, kami santai saja. Tidak buru-buru berangkat dari rumah. Biasanya dokter baru datang satu jam dari jadwal perjanjian.

Hari ini saya sudah mulai cuti. Meski demikian, paginya masih menyelesaikan sedikit pekerjaan melalui email. Kemudian, pukul 07.30 WIB saya sarapan, yang juga berfungsi sebagai “sahur”, karena harus menjalani puasa (setidaknya) tujuh jam sebelum tindakan pembiusan.

Pagi hari itu juga saya isi dengan kegiatan membereskan rumah, tepatnya kamar, agar begitu pulang FET bisa digunakan dengan nyaman. Menjelang Zuhur, kami packing pakaian untuk menginap semalam di Akmani, Sabang. Pada pukul 13.30 WIB, kami baru berangkat dari rumah.

Hmm… mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa kami menginap di Akmani?

Jadi gini ceritanya.

Biasanya setelah embryo transfer (ET), pasien diwajibkan banyak berbaring ditempat tidur. Tidak boleh bergerak. Klinik Yasmin menawarkan apakah saya akan rawat inap semalam di rumah sakit atau langsung pulang (dengan catatan harus langsung pulang, nggak boleh mampir kemana-mana).

Waktu pertama kali menjalani IVF,  kami memilih rawat inap semalam di rumah sakit. Ternyata itu malah stresful karena saya harus memakai kateter yang amat tidak nyaman.

Menyadari pentingnya untuk tetap berbaring selama mungkin paska ET, namun tidak mau rawat inap di rumah sakit, walhasil pada IVF yang kedua kami memutuskan untuk menginap di hotel yang tak jauh dari sana. Tujuannya supaya dapat memperoleh suasana yang lebih menyenangkan dan lebih santai (macam liburan). Pada IVF kali ini, kami memilih Akmani Sabang, yang banyak tempat jajannya, sebagai tempat menginap hehe ..

Bukan bermaksud bergaya dengan menginap di hotel. Hanya saja setelah menjalani banyak proses, suntik sana sini, konsumsi obat ini itu yang “mengaduk-ngaduk” hormon, dan bolak balik ke rumah sakit untuk sekian waktu yang lama, bolehlah kami menurunkan ketegangan dengan bersantai sedikit. Selain itu, tarif rawat inap semalam di RSCM Kencana lebih mahal dibanding tarif menginap di Akmani.

Kembali ke laptop.

Setelah menempuh perjalanan dari rumah sekitar 45 menit, pukul 14.15 WIB kami tiba di RSCM Kencana. Sementara doski mencari parkir, saya langsung turun dari mobil untuk registrasi di bagian pendaftaran lantai satu.

Setelah kelar urusan di pendaftaran, saya solat Zuhur (lagi). Sebetulnya, di rumah saya sudah solat, tapi dalam perjalanan baru ingat kalau ternyata saya belum menjama’ solat Ashar dengan solat Zuhur. Mengingat tindakan akan dilakukan pukul 15.00 atau 16.00 WIB, saya memperkirakan tidak akan sempat untuk menunaikan solat Ashar pada waktunya. Jadi, harus dijama’. Akhirnya saya solat (Zuhur kembali) begitu tiba di rumah sakit.

Setelah solat saya langsung naik ke lantai empat, tempat klinik Yasmin berada. Doski sudah menunggu di sana. Sesuai prosedur yang berlaku, hari itu saya sama sekali tidak menggunakan make up dan parfum saat ke Yasmin. Pasien juga diminta untuk banyak minum air putih dan tidak buang air kecil. Kalau buang air kecil, ya harus minum air putih lagi. Tujuannya supaya kandung kemih kita terisi penuh. Nah, berhubung harus puasa tujuh jam karena akan di-anestesi, maka episode minum air putih ini saya lakukan saat “sahur”. Sebisa mungkin setelah itu menjaga agar tidak buang air kecil. Kalau memang terpaksa harus memenuhi panggilan alam, usahakan jangan banyak -banyak karena sudah tidak bisa minum air putih lagi untuk mengganti cairan yang dikeluarkan. Whahahaha… ajiiibbb deh. Itulah perjuangan seorang ibu, yang berjuang demi anaknya, bahkan sebelum anaknya itu berwujud manusia hehehe…

Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya pukul 15.00 WIB kami dipanggil dan diminta menunggu di ruang IVF. Beberapa menit kemudian, kami diminta untuk berganti baju khusus, mirip pakaian operasi, lengkap dengan tutup kepala dan masker. Sepatu yang kami kenakan juga diminta diganti dengan sandal karet model crocs yang sudah disediakan di rumah sakit.

Setelah semua beres, kami masuk melalui pintu penghubung, yang juga berfungsi sebagai sterilisator.

Sambil menunggu dokter Andon, kami diminta beristirahat di sebuah kamar. Ruangan ini terdiri dari dua tempat tidur yang disekat dengan tirai, kursi, dan rak berisi foto bayi-bayi yang dihasilkan melalui program IVF di sini.

Sekitar pukul 16.00 WIB, kami mendengar suara khas dokter Andon di ruang sebelah. Rupanya beliau baru datang. Tak lama kemudian, kami berdua diminta mempersiapkan diri untuk briefing.

Sambil menunjukkan gambar di layar komputer, dr. Andon menerangkan bahwa proses thawing terhadap embrio nomer 5 dan nomer 8 telah berhasil dilakukan oleh embriolog. Keduanya merupakan embrio dengan kualitas good, yang sudah dibekukan selama hampir dua tahun di tempat penyimpanan embrio di RSCM Kencana. Inilah anak-anak kami, dua terakhir yang tersisa dari delapan yang dihasilkan. Gambar embrio sebelum dan sesudah proses thawing ditunjukkan kepada kami. “Bagus kok”, kata dokter Andon.

Lega rasanya melihat anak-anak kami bisa survive melalui “jaman es” dan proses pencairan (thawing). Anak-anak yang kuat! Saya membayangkan apakah kelak, ketika sudah tumbuh menjadi manusia, mereka akan merasa dejavu ketika melihat freezer kulkas hehehe…

Selesai briefing, saya lalu diminta untuk memasuki ruang ET, sementara doski diminta menunggu di luar.

Di ruang ET telah ada dokter Anestesi dan sejumlah perawat. Oya, mulai dari IVF siklus pertama hingga siklus ketiga ini, saya selalu dibius. Saya termasuk orang yang sensitif alias mudah sekali untuk resisten ketika ada benda asing masuk atau merasakan ketidaknyamanan. Daripada proses ET-nya tidak maksimal, lebih baik dibius saja. Saya sempat membaca tulisan di blog tentang orang-orang yang memilih untuk tidak dibius saat ET,  waaahhh…. salut!

Setelah merebahkan diri dalam posisi yang tepat di tempat tidur, dokter Anestesi langsung memasang selang oksigen di hidung saya. Lalu, ia memasang alat di pergelangan tangan saya untuk memantau detak jantung. Sebelumnya, jarum infus telah dipasangkan ke tangan saya. Kaki saya kemudian dibungkus dengan kaos kaki besar, lalu diikat ke sisi tempat tidur agar tak leluasa bergerak. Suster memindai perut saya untuk memeriksa kandung kemih. Pada saat itulah obat anestesi mulai dialirkan ke dalam tubuh saya melalui pembuluh darah. Badan mulai terasa berat. Saya berdzikir. Saat badan sudah semakin berat dan tak mampu saya tahan, saya pasrahkan semuanya. Tak lama kemudian saya terlelap.

Rasanya seperti apa dibius itu?

Seperti tidur biasa, dengan bermimpi. Dalam mimpi itu saya mendengar orang bercakap-cakap tentang IVF, embrio dan sejenisnya. Mungkin ini suara dokter dan perawat yang sedang bekerja ya haha ..

Saya tersadar dari bius tepat ketika seseorang mengatakan, “Yak, sudah selesai”. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Saya memperkirakan tindakan ET mungkin dilakukan sekitar 20-25 menit. Atau malah kurang, karena rasanya sebentar sekali hehehe ..

Pada FET siklus kedua, saya sempat diperlihatkan embrio-embrio kami yang telah berhasil ditransfer ke dalam rahim melalui layar televisi. Mungkin karena saya dianggap sudah lumayan terjaga dan dapat diajak berkomunikasi. Pada FET kali ini, saya hanya mendapatkan print out foto embrio yang telah berada di dalam rahim.

Saya diminta tetap berbaring di ruang ET selama satu jam.

Pukul 17.30 WIB, suster memperbolehkan saya untuk beranjak dari ruang ET dan berganti pakaian. Setelahnya, doski dipanggil. Kami kemudian dipersilakan untuk menyantap masing-masing satu porsi nasi soto ayam yang telah disediakan.

Setelah makan, suster memberitahu tentang langkah selanjutnya setelah FET : obat-obatan yang harus diminum, kontrol pertama pada 2 April 2018,  serta pemeriksaan HCG dan konsultasi pada 9 April 2018.

Pukul 18.00 WIB kami meninggalkan RSCM Kencana, menuju Akmani. Kami tidak lagi berdua, melainkan berempat dengan embrio-embrio kami di dalam rahim saya.

 

 

Check Also

Kangen Kuliner Berjarak 1400 KM dari Jakarta (#SelayarTrip)

Padahal ketika pertama kali membaca di blog tentang kuliner di Selayar, saya mengernyitkan dahi, “Apa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *