Saturday , 16 February 2019
Home / Hingar Bingar Bulutangkis di Media Sosial: “Mungkin Cocok untuk Mereka, tapi Tidak untuk Saya”

Hingar Bingar Bulutangkis di Media Sosial: “Mungkin Cocok untuk Mereka, tapi Tidak untuk Saya”

Kalau saja tak membaca koran cetak, barangkali saya nggak akan tahu kalau pekan ini tengah berlangsung turnamen Indonesia Masters. Sementara Vika, teman kerja saya yang juga penggila bulutangkis, sudah asyik mantengin live streaming pertandingan dari hari-hari sebelumnya. Dia mengetahui turnamen ini dari media sosial.

sumber: kreedon.com

 

Saya menggemari bulutangkis sejak 1996, saat berusia 14 tahun. Meski demikian, pada tahun 2012, saya memilih untuk mengundurkan diri sejenak dari hingar-bingar bulutangkis karena harus menyelesaikan tugas belajar. Niatnya sih pengen balik lagi menekuni bulutangkis setelah lulus kuliah, tapi apa daya, sampai sekarang belum sempat karena pekerjaan kantor yang nggak ada habisnya hehehe …

Tahun 2012 itu pula menjadi tahun terakhir saya meliput untuk bulutangkis.com. Alasannya? Agak lebay sih …. saya merasa tulisan saya makin lama makin menurun kualitasnya, tidak bisa menyamai kedalaman tulisannya Brigitta Isworo Laksmi. Mungkin kalian akan berpikir, “Yaelahh gitu aja lebaii amat, sik”. Mungkin karena sejak remaja saya tumbuh dengan membaca liputan bulutangkisnya Brigitta di koran Kompas, jadi secara nggak sadar ada dorongan untuk bisa melakukan hal seperti idolanya (*ceile).

Saat saya undur diri di tahun 2012 itu, bulutangkis belum se-hingar bingar ini di media sosial. Jaman itu dan jaman sebelumnya, saya sudah cukup puas membaca situs Badzine atau Bulutangkis.com; mantengin live score di Tournament Software; gabung di milis bulutangkis; atau main bulutangkis virtual di Facebook bareng teman saya. Masa dimana cara kita kepo-in atlet adalah dengan melalui fitur add friend di Facebook, bukan follow Instagram seperti saat ini. Masa dimana belum menjamurnya akun-akun instagram bulutangkis yang menyajikan informasi secara real time.

*

KEKUATAN MEDIA SOSIAL

Jaman now kalau kita tengok media sosial, katakanlah Instagram, terdapat sedikitnya 30 akun bulutangkis. Ini di luar akun pribadi atau fanbase atlet lho. Ini juga di luar unggahan dengan tagar badminton yang jumlahnya mencapai 1.819.804 dan tagar bulutangkis yang berjumlah 247.932 postingan. Tagar dengan nama atlet seperti Lin Dan, jumlahnya juga cukup signifikan yaitu sekitar 30 ribu unggahan. Belum tagar dengan nama atlet lainnya. Betapa penggemar bulutangkis jaman sekarang sedemikian dimanjakannya!

Apa artinya?

Teknologi mendekatkan hubungan kita dengan bulutangkis. Bulutangkis tidak lagi berada di menara gading, alias tidak lagi susah dijangkau.

Dengan adanya media sosial, menggemari olahraga ini bukan lagi menjadi hal yang sulit. Tentu saja, ini berdampak pada meningkatnya kepopuleran olahraga tepok bulu angsa ini. Saya pernah dengar gosip bulutangkis akan dicoret dari cabor olimpiade karena dianggap hanya populer di negara-negara tertentu saja, tapi tidak di negara atau benua lain. Keberadaan media sosial membuat tugas World Badminton Federation untuk mempopulerkan olahraga ini ke seluruh penjuru dunia menjadi lebih mudah. Selain itu, kepopuleran suatu cabor juga dapat menarik sponsor yang masuk. Semakin banyak sponsor, maka semakin banyak dana yang diperoleh untuk pembinaan atlet, yang berujung pada semakin banyak prestasi yang ditorehkan.

Media sosial yang menyajikan data pertandingan secara real time juga memudahkan penggemar memonitor prestasi atlet : “Si A kok sering banget kalah di babak awal ya pada tiga turnamen belakangan ini?”. Penggemar dapat langsung menyampaikan saran dan kritik melalui media sosial atlet atau pengurus bulutangkis. Sisi baiknya, monitoring semacam ini dapat menjadi motivasi bagi atlet maupun official tim untuk berbenah diri. Sisi buruknya : perundungan siber oleh netizen tak bertanggung jawab.

Media sosial juga membuat relasi antara penggemar dan atlet idolanya seolah menjadi tak berjarak. Seperti teman saya, yang tahu atlet X pernah pacaran dengan atlet Y, lalu kemudian putus dan akhirnya malah pacaran dengan atlet Z. Semua informasi itu diperoleh dari satu benda bernama : Instagram. Bayangin, dulu saya nggak tahu sama sekali kehidupan percintaan Peter Rasmussen. Yang saya ketahui tentang dia, hanya prestasinya atau bahwa dia juga kuliah Kedokteran selain menjadi atlet bulutangkis Denmark. Itu pun saya tahunya dari koran.

*

KURANG MENDALAM?

Ironisnya, saat semua informasi menjadi sangat mudah didapatkan, engagement saya dengan bulutangkis semakin memudar. Paparan informasi yang sedemikian terbukanya, bahkan real time, belum cukup kuat untuk menarik saya “kembali” ke bulutangkis.

Ketika melihat semua informasi yang terpampang nyata di media sosial itu, saya merasa ada “ruh” yang hilang.

Semuanya kebanyakan tentang data statistik.

Angka dimana-mana.  

Data head to head.

Data hasil drawing.

Atau informasi lain yang parsial, sepotong-potong, dan tidak utuh sebagai satu kesatuan.

Saya merasa kehilangan “kedalaman”.

Hal yang membuat saya tertarik dengan bulutangkis bukanlah data statistik. Bukan wajah ganteng dan tubuh atletis atlet.

Melainkan artikel humanis yang ditulis Brigitta Isworo Laksmi tentang betapa meledak-ledaknya Michael Sogaard dan betapa kalemnya Henrik Svarrer, yang tetap merasa gembira meski dilibas Ricky – Rexy saat kejuaraan Thomas Cup 1996.

Atau artikel tentang bagaimana tim dari negara Malta sana mengupayakan agar bisa ikut bertanding di turnamen bergengsi, disertai  dengan pembahasan tentang perkembangan bulutangkis di negara-negara non bulutangkis.

Media massa pada jaman itu bukan hanya menyuguhkan statistik head to head atlet, tapi juga liputan tentang sistem pembinaan PBSI dan klub daerah. Dengan demikian, seorang penggemar macam saya, bisa mengetahui bahwa atlet yang pada hari ini berdiri membela negaranya bukan tercipta simsalabim abrakadbra, namun hasil dari sistem pembinaan yang panjang dari tingkat bawah.

Media massa di masa itu bukan cuma mengulas sistem pembinaan di dalam negeri, namun juga di luar negeri : tentang “sisi kelam” pembinaan di salah satu negara adidaya bulutangkis. Artikel itu memperluas perspektif saya dalam melihat atlet-atlet dari negara tersebut, yang notabene adalah lawan bebuyutan kita : menjadi lebih utuh dan tidak parsial.

Mungkin ada yang komentar, “Emang apa sih gunanya artikel koran macem begitu?”

Well, artikel itu menjadikan kita bukan hanya sekedar tahu kulitnya, tapi juga hal yang mendasar di belakangnya. Dengan pengetahuan ini, siapa tahu bisa memantik kita untuk menyumbang pemikiran atau kontribusi riil lainnya bagi perkembangan bulutangkis Indonesia dan dunia.

*

PREFERENSI PERSONAL

Mungkin ada yang berkomentar lagi, “Informasi seperti itu kan tugas atau porsinya koran cetak. Kurang cocok dengan platform Instagram, Twitter, atau media sosial sejenis lainnya”.

Saya akan jawab, “Benar. Jenis informasi seperti itu lebih sesuai untuk mereka yang aktif di media sosial, atau yang membutuhkan data yang sifatnya segera, up to date, dan tidak berpanjang-panjang. Namun kurang sesuai untuk orang macam saya”.

Pada akhirnya, hal ini kembali kepada preferensi atau minat masing-masing untuk memilih jenis informasi yang seperti apa.

Eniwei, saya memang telah sedemikian berjarak dari bulutangkis sejak beberapa tahun lalu. Namun berjarak bukan berarti tidak peduli. Untuk menjadi dekat kembali, tentu saja butuh waktu untuk mengejar semua ketertinggalan. Mengingat hubungan yang erat antara saya dengan bulutangkis di masa lalu, saya percaya “ruh” itu masih ada. Dan saya memilih jalan klasik untuk menguggahnya : dengan membaca koran cetak dan tidak ikut larut dalam hingar bingar media sosial.

Sama seperti 23 tahun lalu.

 

Check Also

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Bila Anda Terdiagnosis “Pro IVF”?

Hola! Menjelang pelaksanaan IVF siklus ketiga, saya jadi ingin berbagi (lagi) melalui tulisan berikut ini. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *