Sunday , 18 November 2018
Home / Kebetulan Jalan-jalan / Nostalgia di Maison Weiner

Nostalgia di Maison Weiner


“Dulu di pojokan situ banyak oplet, angkot. Di belakang juga ada toko kue. Kalau Natal, Lebaran, atau Imlek, ramai betul”, ucap seseorang.

Sontak, kami – yang sedang menikmati plain croissant dan lontong isi daging – menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria Tionghoa, yang kami taksir berusia 50an, tengah berbicara dengan pramuniaga merangkap kasir. Tangannya memegang es krim dalam cup kertas. Saya mengenalinya sebagai konsumen, yang masuk beberapa menit setelah kami.

Ia duduk di kursi tak jauh dari kami. Mungkin sedang menunggu pesanannya.

“Bapak sering beli di sini?”, tanya saya.

“Saya tetangga sekitar sini. Rumah saya di belakang situ. Saya beli roti di toko ini sejak masih kecil”, ia menjelaskan.

Maison Weiner. Demikian nama toko roti klasik ini.

Keinginan memberi oleh-oleh yang khas untuk seorang teman, membawa saya dan doski ke toko roti yang letaknya menyempil di tengah pemukiman penduduk di Jalan Kramat 2, Jakarta Pusat, ini.

Kami mengetahui toko roti ini dari sebuah artikel di Harian Kompas.

Maison Weiner didirikan oleh Nyonya Lee Liang Mey pada tahun 1936. Kini, toko roti itu dikelola oleh generasi ketiga.

“Pendirinya sudah meninggal dunia. Sekarang cucunya yang meneruskan”, kata Pramuniaga. “Cucunya, atau bos saya itu, usianya sebaya bapak tadi”, lanjutnya, mengacu pada pelanggan Tionghoa setengah baya berusia 50an yang tadi mampir membeli beberapa roti.

Toko ini masih menempati bangunan asli, sebuah rumah bergaya artdeco yang tetap mempertahankan beberapa aksen khasnya, seperti pagar kawat tenis (*men, pagar impian gue*) dan pintu khas kolonial (*yang entah apa namanya*).

Meski beberapa bagian rumah sudah direnovasi –antara lain lantainya–, nuansa jadul tetap terasa. Di dindingnya, terpampang foto hitam putih yang menggambarkan Maison Weiner di masa lampau.

Sore itu suasana toko sangat sepi. Setelah pelanggan Tionghoa tadi berlalu, hanya ada saya dan doski menikmati pesanan kami sambil membayangkan seperti apa suasana toko ini di masa lalu (*oiya, di Maison Weiner, kamu bisa dine in atau take away).

“Biasanya yang berkunjung ke sini adalah orang tua seusia bapak tadi. Jarang ada anak muda yang datang kemari. Mungkin juga karena tekstur roti ini yang seret cenderung disukai orang tua dari pada anak muda”, tutur pramuniaga.

Saya dan doski lantas melihat-lihat etalase, mencari produk yang sekiranya cukup unik untuk dijadikan oleh-oleh bagi teman kami.

Mengingat oleh-oleh itu akan dibawa ke luar kota dengan perjalanan yang cukup lama, kami mempertimbangkan untuk memilih kue kering.

Maison Weiner menyediakan sejumlah kue kering, yang produknya mirip dengan kue-kue yang dikenal di Indonesia, hanya saja ini memiliki nama yang berbeda. Misalnya “Kaasbollen” untuk kue mirip Nastar, “Kattetong” untuk kue Lidah Kucing, atau “Chocolate Button” untuk Lidah Kucing rasa coklat. Selain itu, ada pula “Ananasroll” atau kue kering gulung isi nanas dan kue sagu.

Di rak selanjutnya, terhampar beragam jenis roti, mulai dari roti moderen hingga yang khas Maison Weiner. Kuantitas yang dipajang di etalase tidak banyak.

Begitu melihat beberapa jenis roti gandum dan croissant, saya langsung bergumam, “Wah, ini doski banget!”.

Adapun roti legendaris buatan Maison Weiner adalah Soeiss Brood dan Amandel Brood. Sementara itu, roti lainnya yang ada di sini antara lain Long John, Bluder, Bluder Coklat, Horren, dan sebagainya. Oiya, mereka juga menyediakan cake lho! Sebagai informasi, cake di sini menggunakan rhoem. Pramuniaga memperingatkan saya tentang hal itu ketika saya hendak memesan sebuah cake. Mungkin karena tahu saya Muslim, dari hijab yang saya kenakan.

Maison Weiner tidak hanya menyediakan roti, kue kering, dan cake.  Mereka juga menjual makanan lain, seperti lontong isi, risoles, dan cheesestick. Di suatu masa, bahkan juga pernah tersedia gado-gado.

“Dulu tempat ini juga menjual gado-gado, tapi sekarang tidak lagi. Mungkin karena tukang ulek bumbunya berhenti dan belum menemukan tukang ulek yang pas”, kata Pramuniaga.

Di tengah gempuran toko roti kekinian, Maison Weiner masih setia menyapa penggemar lawasnya melalui resep-resep roti legendarisnya. Mungkin kuantitas dan ragam produknya tak sebanyak toko roti moderen, namun Maison Weiner menawarkan sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh toko lain : penghubung dengan masa silam.

Kami berharap toko kue ini akan terus ada. Memang tidak mudah meneruskan, mengelola, dan mempertahankan warisan generasi sebelumnya dengan cara yang bijak. Maka, ketika itu berhasil dilakukan …. salute!

 

*Catatan Tambahan:

Pastikan Anda membawa uang tunai untuk bertransaksi. Mereka tidak menyediakan fasilitas pendebitan. Pramuniaganya berkata, “Mungkin karena toko jadul, maka transaksinya juga pakai cara jadul” hehe..

 

Tanah Kusir, malam Minggu, 10-02-18,

@Melok Roro Kinanthi.

 

 

Check Also

Nyobain Check In 2,5 Jam Saja di Ibis Budget Airport Makassar (#SelayarTrip)

Yess, benar. Singkat. Hanya dua setengah jam saja kami check in di hotel ini, Sodara-Sodara! ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *