Sunday , 18 November 2018
Home / Kebetulan Jalan-jalan / Kangen Kuliner Berjarak 1400 KM dari Jakarta (#SelayarTrip)

Kangen Kuliner Berjarak 1400 KM dari Jakarta (#SelayarTrip)

Padahal ketika pertama kali membaca di blog tentang kuliner di Selayar, saya mengernyitkan dahi, “Apa iya enak, ikan dan cumi dibakar begitu saja tanpa bumbu?”. Apalagi ketika tahu di Selayar nasi putih dimasak dengan santan tanpa bumbu juga – kata blogger, mirip nasi uduk tapi tawar – wah, saya langsung mikir, “Betah nggak nih gw di pulau ini?” Hahaha ..

Tapi nyatanya, kuliner-lah yang paling mengesankan selama kami melancong ke Selayar!

***

KULINER MAKNYUSS DI NASI SANTAN MAS AGUS

Kuliner pertama yang kami cicipi di Selayar adalah Nasi Santan Mas Agus di Jalan R.A Kartini, Kota Benteng, Kepulauan Selayar. Nasi santan memang makanan khas Pulau Selayar.

Kami tiba di kedai Mas Agus sekitar pukul 14.00 WITA dalam keadaan perut keroncongan. Maklumlah, kami mengisi perut saat sarapan pukul 07.00 WITA di Ibis Budget Airport Makassar dan setelahnya belum makan lagi. Maka, setelah doski selesai solat Jumat, agenda pertama kami di Selayar adalah mencari makan!

Beberapa pelancong yang ke Selayar pernah menuliskan tentang Nasi Santan Mas Agus di blognya. Karena penasaran, maka  kami pun ke sana dengan mengendarai mobil yang kami sewa dari pihak hotel.

Kedai Mas Agus terletak di tepi jalan R.A Kartini. Tempatnya cukup luas, nyaman, dan bersih. Hanya saja, kakak penjualnya sempat kurang ramah saat mendampingi kami memilih ikan. Mungkin pikirnya, “Ini orang bawel amat, nanya-nanya melulu” hehe ..

Selain nasi santan, Mas Agus juga menjual aneka jenis makanan laut seperti cumi dan ikan sebagai lauk. Kami kemudian memesan dua porsi ikan bakar. Saya lupa jenisnya apa … kalau nggak salah Baronang dan Bandeng.

Ikan – ikan yang kami pesan lalu dibakar. Dan yess … tanpa diolesi bumbu apa pun. Diletakkan begitu saja di tungku pembakaran. Uniknya, ikan dibakar dengan batok kelapa sebagai bahan bakar. Kemudian, agar asap tak kemana-mana, tempat pembakaran ditutup oleh cungkup. Rupanya itulah cara membakar makanan ala orang Selayar. Di kedai makan lainnya di pulau ini, kami juga mendapati hal yang sama.

Makanan lalu dihidangkan. Nasi santan disajikan dalam piring hingga menutupi permukaan piring secara penuh. Ada tiga piring nasi yang diberikan pelayan kepada kami. Rupanya, satu piring ekstra adalah untuk berjaga jika kami ingin nambah.

“Mbak, nggak usah banyak2 nasinya. Ini satu piring aja belum tentu habis”, kata saya, demi melihat satu porsi nasi yang menutupi permukaan piring. Banyak bangettt.

“Nanti kalau nggak habis, kita bungkus aja nasinya”, kata si doski. Pikir kami, boro-boro nambah lagi satu piring, nasi yang menjadi jatah kita saja belum tentu habis.

Tapi ternyata ….. keliru, Sodara-sodara! Entah karena lapar atau memang enak banget, tanpa terasa satu porsi nasi kami habiskan masing-masing dalam sekejap. Itupun masih kurang. Kami nambah satu porsi lagi! Wkwkwkw…

Nasi santan, ikan bakar, dan sambal yang disajikan Mas Agus benar-benar enak! Walau tak dibumbui, ikan bakarnya terasa gurih. Mungkin karena ikannya masih segar diambil dari laut. Hmmm … atau karena teknik pembakaran yang menggunakan batok kelapa itu? Apa pun itu, maknyussss!

Bukan cuma itu, sambal yang disajikan Mas Agus pun juga enak. Perpaduan antara rasa pedas dan asamnya mantap bangett! Sambal ini disebut sambal cobek-cobek. Selain terbuat dari cabe dan bawang, bahan bakunya ada kacang tanah dan belimbing wuluh. Teksturnya mirip sambel kacang pelengkap nasi uduk di Jakarta!

Walaupun kuliner di kedai Mas Agus mengesankan, namun kami bertekad untuk tidak makan di sana dua kali. Tujuannya adalah supaya dapat mencoba tempat makan lain dalam kunjungan kami yang singkat di Selayar. Belakangan, setibanya di Jakarta, kami menyesali hal ini. Kami kangen Mas Agus! Rasa kangen ini ternyata menyiksa karena sulit diobati – mengingat setelah googling kami tak menemukan rumah makan khas Selayar di Jakarta. Tahu gitu, kemarin kami puas-puasin saja makan di sana hahahaha …

***

CUMI BAKAR GARING DI RESTO 132

Untuk makan malam, kami memilih Resto 132. Saya memang sudah merencanakan dan memasukkannya ke dalam itinerary. Saat baca ulasannya di internet, saya membayangkan rasanya seru juga ya bisa makan dengan pemandangan laut sambil diterpa angin sepoi-sepoi!

Resto 132 terletak di dekat pelabuhan Rauf Rahman, Jalan K.H Ahmad Dahlan. Ia berada di dalam komplek Pusat Kuliner Kota Benteng, yang pintu masuknya berada di sebelah pelabuhan. Jadi, resto ini tidak berada di pinggir jalan seperti Kedai Nasi Santan Mas Agus.

Resto 132 memang terletak di tepi laut. Maksud hati ingin menikmati angin sepoi- sepoi, ternyata angin musim barat yang mampir ke tepi perairan Selayar ini tidak bisa dikategorikan “sepoi-sepoi”. Lumayan kencang! Sedemikian kencangnya hingga pihak restoran memutuskan untuk memasang kerai di setiap sisi yang menghadap ke laut untuk menahan hembusan angin. Suara desiran angin yang begitu keras, menemani makan malam kami saat itu.

Kami memesan ikan bakar rica-rica dan cumi bakar. Baik bumbu rica- rica maupun sambal yang mendampingi cumi bakar, keduanya disajikan dengan cacahan tomat yang dominan. Segar banget! Cumi bakarnya – yang tentu saja dibakar tanpa bumbu apapun – terasa garing dan gurih! Saya merekomendasikan cumi bakar ala Resto 132 bagi mereka yang berkunjung ke Selayar.

Saking gurihnya cumi ini, saya memastikan kepada pelayannya apakah memang ia dibakar tanpa bumbu apapun.

Dan jawabnya adalah, “Benar, kak. Cuminya dibakar begitu saja. Nggak dikasih bumbu”.

***

MARTABAK ALA SELAYAR

Makanan favorit saya lainnya selama berada di pulau ini adalah martabak ala Selayar yang dijual di komplek Pusat Kuliner Kota Benteng, dekat dermaga Rauf Rahman. Tak jauh dari Resto 132. Ia tepat berada di pintu masuk komplek kuliner tersebut.

Martabak di sini sederhana. Secara umum, bentuknya sama seperti martabak di Jakarta, hanya saja lebih tipis. Terlalu tipis malah. Isiannya? Telur, kol, dan daun bawang yang diorak-arik. Semua diiris tipis-tipis. Rasanya? Enak bangetttttt!

Martabak ala Selayar ini dijual dengan harga 5000 rupiah dan 25 ribu rupiah. Saya pikir yang harganya 25 ribu rupiah dalamnya berisi cacahan daging, seperti di Jakarta. Nggak tahunya, isinya sama saja dengan yang harga 5000 rupiah : orak arik telur, kol, dan daun bawang itu tadi. Yang membedakan hanyalah : yang 25 ribu telurnya lebih banyak hehehe …

Kami mencoba membeli yang harganya 5000 rupiah. Tipis sekali, tapi enak. Karena ketagihan, esoknya kami membeli lagi.

***

TEMPAT MAKAN LAINNYA

Dua tempat makan lain yang kami coba di Selayar kurang mengesankan. Yang satu menjual cumi olahan, yang rasanya tidak sesegar cumi bakar di Resto 132.

Sementara, rumah makan yang satu lagi … hmmm rasanya sih lumayan enak. Cuma, yang bikin kami kurang nyaman adalah, selama makan, wajah dan badan kami ditampar bolak balik oleh angin laut hahaha… Tidak ada kerai penutup. Saking intensnya terpaan angin, saya sampai khawatir besok pagi akan masuk angin. Gawat kalau ini terjadi, mengingat besoknya kami akan keliling kota Makassar hampir seharian (apalagi pesawat kami untuk pulang ke Jakarta baru take off pukul 20.00 WITA – waktu yang panjang!). Begitu tiba di hotel, saya langsung men-doping diri dengan Antangin dan minyak kayu putih.

***

Demikianlah cerita pengalaman kuliner kami di Selayar. Baru beberapa hari kembali ke Jakarta, kami sudah kangen kembali dengan kuliner ala Mas Agus dan Resto 132. Sayangnya, tak mudah mengobati rasa kangen terhadap makanan berjarak 1400 kilometer dari tempat kami hehehe ….

 

Tanah Kusir, Malam Sabtu, 16 Maret 2018,

@Melok Roro Kinanthi.

Check Also

Naik Pesawat Kecil, Mendarat di Bandara Kecil (#SelayarTrip)

Salah satu hal yang paling saya nantikan dari perjalanan ke Pulau Selayar adalah merasakan naik ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *