Sunday , 18 November 2018
Home / Kebetulan Jalan-jalan / Melancong Kemana?

Melancong Kemana?

Gara-gara sepekan terakhir melakukan survei untuk perjalanan di 2018 nanti (insya Allah), saya jadi ingin bercerita random tentang  “menyusun itinerary” dan “melancong”.

Bagi saya, episode membuat itinerary perjalanan sama menyenangkannya dengan perjalanan itu sendiri. Ada proses riset yang dilakukan di sini. Mulai dari mencari tahu tentang transportasi, penginapan, obyek wisata menarik, tempat makan dan sebagainya. Termasuk, menyusun rundown harian!

Setelah itinerary tersusun, hal menarik lainnya adalah mengeksekusinya. Meraba-raba daerah asing, yang belum pernah dijelajahi, hanya dengan bekal sepotong informasi di internet ……. rasanya luar biasa! Saya rasa, inilah sisi yang paling menarik dari melancong.

Itinerary “serius” yang pernah saya susun adalah ketika ke Malaysia (2010), Australia (2010), dan Singapura (2013). Dua perjalanan yang pertama, dilakukan saat saya masih lajang.

Waktu merencanakan perjalanan ke Kuala Lumpur, Malaysia, saya sampai menjelajah situs couchsurfing untuk mencari penginapan murah meriah, walaupun ujung-ujungnya malah nginep di hotel beneran bertarif 450 ribu rupiah semalam dengan kamar private. Saya baru ngerasain pengalaman nginep umpel-umpelan bareng orang asing di hostel (dengan shared bathroom pula) ketika ke Darwin, Australia.

Ketika ke Malaysia (Kuala Lumpur) dan Australia (Darwin), saya tidak membuat itinerary terlalu detil terkait tempat wisata atau kuliner.

Survei yang saya lakukan ketika itu hanya terkait transportasi lokal dan penginapan. Di Malaysia, saya bekerja meliput kejuaraan Thomas dan Uber Cup seharian di stadion. Daya tarik kejuaraan tersebut membuat saya benar-benar tak tertarik untuk menjelajah Kuala Lumpur layaknya turis. Padahal, hampir seminggu saya berada di sana.

Demikian pula ketika di Darwin. Padatnya jadwal konferensi (plus dana yang nge-pas hehe…) membuat saya kurang antusias menjelajah negara bagian di ujung utara Australia ini. Saya cuma jalan-jalan di Mitchell Street (pusat turis, tempat dimana hostel saya berada) dan secara spontan ke Pasar Malam Mindil Beach karena diajak sesama peserta konferensi.

Sehari setelah konferensi, saya menginap di rumah teman yang menikah dengan warga lokal Darwin. Ia mengajak saya berkeliling kota dan pantai.

Setelah menikah, itinerary serius pertama yang saya susun adalah perjalanan ke Singapura (2013).

Waktu itu saya membuat itinerary untuk empat hari, dimana salah satunya ada rencana naik kapal ferry dari Singapura ke Batam (eh, atau Bintan ya) segala. Entah kenapa, perjalanan tersebut akhirnya tidak jadi dilakukan pada saat itu.

Beberapa bulan kemudian, barulah kami beneran ke Singapura ….  dengan spontan. Ehm, nggak terlalu spontan macam go show juga sih. Yang dimaksud spontan adalah : rencana itu baru tercetus H-3 sebelum keberangkatan.

Ceritanya, menjelang ulang tahun pernikahan, saya iseng ngobrol sama doski, “Enaknya ngapain ya buat ngerayain anniversary?”. 

Akhirnya timbul ide, gimana kalau ke Singapura PP? Macam main ke rumah tetangga aja gitu. Berangkat pagi, lalu sorenya pulang tanpa menginap.

Meskipun hanya melancong sehari di negeri Singa sana, itinerary tetap harus dibuat.

Saya berusaha membuat jadwal seefektif mungkin. Tempat macam Merlion Park, walaupun ikonik, terpaksa saya coret dari daftar kunjungan karena yahhh… mau ngapain lagi di sana selain foto-foto cantik depan Merlion, sementara kami berdua bukan banci foto.

Itinerary selama satu hari di Singapura yang ketika itu saya buat adalah sebagai berikut:

  • Berangkat dengan penerbangan pukul 05.30 WIB menuju bandara Changi.
  • Dari Changi cuss sarapan dengan kuliner Timur Tengah di Arab Street.
  • Mampir toko buku di sekitar Orchard Road (saya beli dua buku di sana).
  • Ke Asian Museum.
  • Memgunjungi Bugis Street, dan terakhir Chinatown.
  • Menjelang magrib, kami sudah di MRT on the way ke Changi. Sambil menunggu penerbangan pukul 22.00 WIB, kami makan malam di restoran Thailand yang ada di dalam bandara.

Setelah ngiter-ngiter di Singapura sejak pagi, kami tiba di rumah pukul 1 dinihari. Kemudian tepar, kaki pegel dan sakit karena seharian dipakai jalan hehehe..

Meski hanya kunjungan singkat, perjalanan ke Singapura ternyata amat mengesankan bagi doski.

Dia terkesan dengan cara berkeliling Singapura ala backpacker yang kami lakukan. Kami melakukan survei ini itu sebelum berangkat, mencari lokasi dengan melihat peta, naik angkutan umum … dan ketika akhirnya menemukan lokasi yang dituju, rasanya seperti menemukan harta karun hehehe..

Itu menjadi pengalaman baru untuk doski.

Selama ini kalau menemani mamanya jalan-jalan ke luar negeri, ia selalu menggunakan biro travel, dimana mereka tinggal duduk manis karena segala sesuatunya sudah disiapkan.

Keliling Singapura ini sebenarnya bukan yang pertama bagi doski, tapi terasa berbeda karena kami melakukannya dengan ngeteng kendaraan umum hehehe…

Setelah ke Singapura tahun 2013 lalu, saya dan doski belum pernah lagi melakukan perjalanan dengan menyusun itinerary yang serius.

Deadline kuliah doktoral yang harus segera diselesaikan ketika itu, membuat saya tak terlalu antusias berlibur ke tempat yang jauh.

Daripada sudah mengeluarkan banyak biaya untuk berlibur ke tempat yang jauh tapi tidak bisa benar-benar dinikmati karena memikirkan disertasi yang belum selesai, lebih baik tidak usah sama sekali.

Walhasil dalam masa itu, kami lebih banyak berlibur ke tempat yang dekat, seperti Bogor, Bandung, Yogyakarta, atau Semarang, yang sudah familiar bagi doski sehingga tak perlu itinerary khusus.

Kalau sedang ingin menjelajah yang lebih adventurous, kami biasanya berkendara menyusuri rute-rute “asing”. Misalnya, mencari pantai Muara Beting, menjelajah pedalaman Bekasi – Karawang, atau mencoba jalur alternatif Pandeglang – Bogor dan Sukabumi – Jonggol dengan berbekal peta konvensional.

Tahun 2015, tugas belajar saya akhirnya selesai. Saya pun kembali bekerja seperti biasa.

Tak lama setelah lulus sekolah, saya diamanahi sebuah posisi di kantor, yang kurang memungkinkan untuk bisa mengambil cuti panjang dengan tenang.

Walhasil, keinginan kami untuk berlibur ke tempat yang jauh ditunda (lagi) sementara.

Memasuki tahun 2018, kami menilai situasi pekerjaan sudah cukup memungkinkan untuk mengambil cuti panjang dengan tenang.

Ada beberapa perjalanan yang kami rencanakan di tahun ini. Untuk lebih memeriahkan suasana, ada game yang akan dimainkan di perjalanan tertentu.

Bayangkan. Kamu diajak jalan-jalan, entah naik bis, kereta, atau pesawat … tapi hingga duduk di dalam moda transportasi, kamu bahkan tidak tahu akan dibawa kemana, karena partner jalan kamu (yang membuat itinerary-nya) tidak mau memberitahu.

Itu yang akan kami lakukan kepada satu sama lain tahun ini 😝

Eniwei, menutup ocehan nggak jelas ini, saya ingin menyampaikan (kali aja ada yang mau nyeponsorin hehe..) bahwa suatu saat nanti kami ingin sekali melancong, dengan berkendara mobil, menyusuri Sulawesi dari ujung ke ujung, menjelajah pedalaman Bali, melintasi Australia, atau berkeliling Eropa. Sekali lagi, dengan mobil. Seperti pasangan suami istri HOK Tanzil, pelancong legendaris jaman dulu.

 

Minggu Malam, 21 Januari 2018

@Melok Roro Kinanthi.

Check Also

Nyobain Check In 2,5 Jam Saja di Ibis Budget Airport Makassar (#SelayarTrip)

Yess, benar. Singkat. Hanya dua setengah jam saja kami check in di hotel ini, Sodara-Sodara! ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *