Sunday , 12 April 2020
Home / Kebetulan Ada Info / Membaca Kembali “Lampor”

Membaca Kembali “Lampor”

Saya tidak membekali diri dengan stok buku baru untuk dibaca selama masa stay at home. Selain karena nggak sempat beli (hari terakhir bekerja di kantor sebelum WFH rasanya mencekam sekali, sampai nggak inget hal lain kecuali segera pulang), beberapa buku yang saya beli berbulan-bulan lalu masih utuh di rumah, menagih untuk dibaca pemiliknya. Adapula buku lama, yang masih sangat greget dibaca kembali karena saya sudah lupa sebagian isinya. Untuk yang terakhir ini, “Lampor” menjadi pilihan saya mengisi waktu selama WFH.

.

Saya membeli Lampor sekitar tiga tahun lalu. Begitu melihat sampulnya yang terpajang di salah satu rak di Gramedia Matraman, ingatan langsung melayang ke jaman SMP dulu, ketika orang tua beberapa kali membeli buku kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS, dimana saya ikut membacanya. Jadi, Lampor terpilih masuk ke keranjang belanja saya karena nostalgia ….. dan karena ada nama Jujur Prananto sebagai salah satu penulis di dalamnya. Saya suka dengan cara bertutur Jujur Prananto yang sederhana, tidak puitis, tidak berbunga-bunga. Ceritanya sangat membumi, sehari-hari banget, tidak membuat kening berkerut, … tapi kejutan, satire, dan hikmahnya.. wow pecaaaaah!

.

Lampor merupakan buku Cerpen Pilihan KOMPAS 1994. Sesuai namanya, buku ini berisi cerita pendek yang pernah dimuat di harian KOMPAS pada tahun 1994. Kata “pilihan” yang tersemat di sub judul buku ini bermakna bahwa 17 cerita pilihan yang tersaji di buku ini benar-benar telah lolos seleksi sebagai pilihan redaksi. Proses memilih cerpen ini diceritakan dalam prakata buku ini. Yang melakukan proses pemilihan pun bukan sembarang orang, tapi wartawan senior di masa itu seperti Efix Mulyadi, JB Kristanto, Ninuk Pambudi, dan Sujiwo Tejo. Mereka berdiskusi dan berdebat sengit untuk menentukan yang terbaik. Bayangkan, cerpen kamu bisa dimuat di harian Kompas saja sudah merupakan hal yang prestisius, dianggap bagus, dan berkelas. Apalagi kalau kemudian terpilih oleh redaksi untuk dibukukan.

.

Seperti yang sudah saya ceritakan tadi, buku ini terdiri dari 17 cerita pendek yang ditulis oleh penulis senior, yakni Jujur Prananto, Agus Noor, Ratna Indraswari, Adek Alwi, Bre Redana, Seno Gumira Ajidarma, Palti Tamba, Satyagraha Hoerip, Joni Ariadinata, Harris Effendi Thahar, Gede Aryantha Soethama, dan Yanusa Nugroho. Beberapa penulis menyumbang dua tulisan, salah satunya pak Jujur, penulis favorit saya. Wow, senangnya!

.

Seluruh cerpen dalam buku Lampor menarik untuk dibaca. Kalau diminta memilih berdasarkan selera (yang sudah pasti subyektif), saya menyukai cerita tentang kehidupan sehari-hari, yang mudah dicerna otak saya (hehe…!), dan yang tidak terlalu fantasi. Pilihan saya jatuh pada Parang Garudo (Satyagraha Hoerip), Reuni (Jujur Prananto), Tamu dari Jakarta (Jujur Prananto), Dari Paris (Harris Effendi Thahar),  dan Ibu Bonar (Palti Tamba). Sebetulnya ada satu lagi sih yang saya suka, Lampor (Joni Ariadinata), tapi kok yaaa ending ceritanya nggantung banget …. menyerahkan pada pembaca untuk menarik kesimpulannya masing-masing. Mari kita kulik satu per satu.

.

Cerita Parang Garudo dibuka dengan menggambarkan perjalanan mbah Pinah dari rumahnya sendiri ke sebuah rumah gedong yang merupakan tempat kerjanya dulu; sebuah tempat workshop batik tulis yang sudah gulung tikar karena tergilas batik cap. Cucuran keringat dan kekhawatiran (seandainya tuan rumah tidak berada di tempat) menggelayuti perempuan yang di masa mudanya ini pernah menjadi pembuat batik tulis. Mbah Pinah terdesak dengan kebutuhan ekonomi;  tidak ada uang, cucu-cucu dan menantunya belum makan sejak pagi, sementara anak laki-lakinya menghilang tanpa jejak sejak bulan lalu. Dia bermaksud datang ke rumah majikannya dulu, untuk menjual batik tulis Parang Garudo yang dibuatnya. Batik tulis itu sedemikian halus, bukan hanya karena teknik membatik mbah Pinah yang sangat mumpuni, tapi juga karena pancaran kebaikan budi dan keluhuran pribadi si pembuatnya. Mbah Pinah menjual batik itu seharga 65 ribu rupiah, tanpa ia tahu orang Jakarta berani membelinya seharga setengah juta rupiah.

.

Tamu dari Jakarta dan Reuni merupakan dua cerpen yang ditulis oleh Jujur Prananto. Tamu dari Jakarta bercerita tentang Atik dan suaminya, yang menyambut Ratna, teman sekolah mereka yang tinggal di Jakarta. Atik, yang tinggal di Solo, sibuk berbenah dan mematut rumah agar tidak malu menerima Ratna yang kini menjadi pengusaha besar. Tanpa diketahui Atik, ternyata Ratna tidaklah seperti yang dibualkannya selama ini dan merupakan seorang penipu.

Sementara itu, Reuni bercerita tentang pertemuan tidak sengaja anggota keluarga besar yang terjadi di makam leluhur. Ada satu adegan kecil dalam Reuni, yang menurut saya lucu. Secara tidak sengaja, Kemal bertemu om dan tante Pramono, sepupu orang tuanya, di makam leluhur.

“Oalaaah, jadi ini putranya Mbakyu Westi. Itu lho, Pap. Westi van Purwanggan, de vrouw van Kawilarang”, kata tante Pramono.

“Oh, ya? Apa kabar bapak?”, tanya om Pramono.

“Sudah meninggal, Oom”.

“Aduh, maaf, maaf. Kapan meninggalnya?”

“Sudah lama. Hampir lima tahun ini”.

“Ya, Tuhan. Berarti kita terakhir ketemu beliau tahun berapa, ya? Saya ingat betul, waktu salah satu putranya ditahan polisi gara-gara ikut tawuran”.

“Wah, itu sudah lama sekali, Oom, Sepuluh tahun lebih”.

“Iya, benar. Waktu itu saya yang dimintai tolong Papa mengurus ke kantor polisi. Habis, Papa malah tidak bisa pergi kemana-mana karena darah tingginya mendadak kumat. Memang nakal betul putranya itu”.

“Itu saya, Oom”.

“Oh, maaf, maaf….”

*

Cerpen Dari Paris bercerita tentang seorang ayah yang merindukan putranya, yang bekerja di Jakarta.  Yang ia butuhkan adalah kehadiran putranya, bukan kiriman uangnya. Putranya terlalu sibuk bekerja untuk sekedar pulang kampung menengok ayahnya. Ketika putranya menelpon dari Paris, ayah sudah meninggal beberapa menit sebelumnya. Di tempat tidurnya, ditemukan sepucuk surat untuk putranya : ia mewariskan tabungan sejumlah 21 juta rupiah, yang merupakan uang kiriman anaknya yang ia tabung selama ini. 

.

Ibu Bonar bercerita tentang seorang istri yang jatuh bangun menghidupi keluarganya, mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari hasil menjual ikan di pasar, namun amblas seketika untuk membayar hutang-hutang judi suaminya. Cerita ini mengangkat topik ketidakberdayaan dan kepasrahan perempuan dalam menanggung konsekuensi dari perbuatan laki-laki (suaminya).

.

Yang menarik adalah Lampor. Saya terhanyut membaca gambaran kehidupan hiruk pikuk-ramai-meriah (lengkap dengan suara panci gedombrangan dan ungkapan ‘Keparaat!’) yang terjadi pada sebuah keluarga miskin yang tinggal di dalam rumah ukuran empat kali dua meter. Buat saya, yang dibesarkan dalam keluarga yang adem ayem, rasanya seperti diajak untuk melihat kehidupan lain  yang tak terbayangkan sebelumnya. Bahwa ada ragam kehidupan lain di luar dunia yang kita tinggali sehari-hari. Sayangnya, akhir cerita ini anti klimaks karena penulis menyerahkan endingnya pada imajinasi pembaca. Jadi menggantung. Saya, yang lebih senang dengan kepastian, kurang nyaman dengan ending yang begini hehehe …

.

Buku Lampor tidak hanya menyajikan 17 cerpen terbaik menurut KOMPAS, namun juga ulasannya. Saya, yang hmmm sehari-hari membaca ulasan Psikologi, tentunya senang bisa membaca ulasan dari bidang ilmu lain, yakni Sastra. Ulasan kali ini disajikan oleh Budiarto Danujaya.

.

Budiarto membahas tentang “sastra koran”. Nah, ini istilah baru bagi saya. Sebutan sastra koran mengacu pada cerpen-cerpen yang terbit di koran atau majalah umum (bukan majalah atau buletin khusus sastra), yang ‘diremehkan’ dan luput dari perhatian kritikus sastra. Ironisnya, cerpen-cerpen terbaik Indonesia di masa itu (tahun 1994, saat ulasan tersebut ditulis), lebih banyak diterbitkan di koran, bukan majalah sastra seperti Horison.

.

Pe-remeh-an terhadap sastra koran bersumber dari dua hal : karakteristik cerpen dan koran yang memuatnya. Cerpen seringkali dianggap hanya sebagai batu loncatan kepada bentuk sastra lain yang lebih serius : novel. Cerpen juga dianggap sebagai karya yang dibuat dalam waktu singkat, tidak terlalu serius, dan dibaca sekedar untuk membunuh waktu luang. Selain itu, hal lain yang membuat sastra koran diremehkan adalah karena koran dianggap sebagai media yang menyajikan informasi umum, bukan khusus sastra. Karakteristik ini membuat koran melakukan pembatasan terhadap cerpen yang dimuat : jumlah halaman, fokus cerita yang hanya boleh permukaan, dan tidak ditujukan untuk menggali masalah.

.

Wow… udah panjang juga ya tulisan saya. Oke, cukup segitu aja cerita mengenai salah satu buku yang saya baca di masa work from home ini.

.

Tanah Kusir, 11 April 2020

@Melok Roro Kinanthi

Check Also

Pengalaman Ikut Sertifikasi Dosen 2015 (bagian 2)

Jika di tulisan sebelumnya saya sudah memaparkan sedikit informasi mengenai Sertifikasi Dosen (Serdos), maka kali ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *