Friday , 13 March 2020
Home / Kebetulan Jalan-jalan / Nggak Kemana-mana Selama di Bangkok. Lalu, Ngapain Aja?

Nggak Kemana-mana Selama di Bangkok. Lalu, Ngapain Aja?

Saya baru saja pulang dari Bangkok, Thailand, setelah mengikuti World Disability and Rehabilitation Conference 2019.

Berbeda dengan perjalanan konferensi sebelumnya, kali ini saya tidak memperpanjang masa tinggal di negara tujuan untuk jalan jalan. Alasannya? Lenyap sudah keinginan untuk menjelajah atau mencoba hal-hal baru karena doski tidak bisa ikut. Mungkin lebay menurut sejumlah orang, namun bagi saya rasanya nggak afdol kalau nggak berbagi petualangan bersamanya. Kami semacam travelling mate yang tak terpisahkan hehe ….

Jadi, kalau ditanya, apakah saya ke Asiatique, Jalan Khaosan, Wat Arun, Pratunam, Pratuchak, atau Pasar Terapung?

Jawabannya, tentu saja tidak. Saya lebih milih pulang dulu ke Jakarta, lalu kembali ke Bangkok bersama si dia dan mengunjungi tempat-tempat tersebut; daripada langsung ke tempat tersebut saat itu juga tapi tanpa si doski.

Pertanyaan berikutnya, apakah saya sudah mencoba Mango Sticky Rice, Pad Thai, Tom Yum, atau Thai Tea selama di sana?

Jawabannya, juga tidak. Saya cuma makan makanan yang disediakan hotel dan panitia konferensi. Antusiasme saya nggak cukup berkobar-kobar untuk memaksa kaki ini melangkah mencari street food di Bangkok.

So, kemana dan ngapain saja saya selama di Bangkok (selain ikut konferensi tentunya)?

Jawabnya, ke Chulalongkorn University Bookstore dan kantor pos jalan Sukhumvit, yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari sebelum berangkat. Memenuhi dua target tersebut, sudah cukup membuat hati saya puas, walau nggak makan Pad Thai atau Mango Sticky Rice hehe ..

Ini dia ceritanya!

.

Chulalongkorn University Bookstore (CUB)

Saat ke luar negeri adalah saat yang paling tepat untuk ‘berburu’ (dan membeli, tentu saja) buku yang tidak bisa di dapatkan di Indonesia, atau yang harganya menjadi lebih mahal ketika kita membeli secara online via Amazon. Buku yang saya incar adalah yang dapat membantu proses belajar mengajar di kelas maupun untuk riset saya.

Toko buku di kota besar seperti Bangkok, tentu banyak. Namun, tidak semua toko buku menjual buku-buku akademik yang biasa digunakan sebagai referensi di perguruan tinggi atau buku spesifik (macam terbitan Mc Graw Hill, Sage, Pearson, dan sebagainya). Sebagai contoh, saat ke Sydney beberapa bulan sebelumnya, saya pernah mengunjungi Dymocks dan Kinokuniya, yang lebih mirip Gramedia kalau di sini. Buat saya pribadi sih, kurang memuaskan karena nggak banyak buku-buku akademik yang dijual di sana. Jadi, saya harus memastikan bahwa toko buku yang saya datangi menyediakan buku akademik.

Bagaimana cara saya memastikan? Googling toko buku yang berafiliasi atau berlokasi dekat kampus di kota tersebut. Kalau lagi iseng, saya malah membatasi kriteria ‘kampus’ dengan spesifik, yakni hanya yang memiliki Fakultas Psikologi. Asumsinya, kalau memiliki Fakultas Psikologi, pasti toko tersebut menyediakan buku-buku Psikologi untuk keperluan civitas academicanya.

Setelah searching sana sini, akhirnya ketemulah saya dengan CUB ini. Untungnya, lokasinya mudah dijangkau dengan angkutan umum yang murah meriah, apalagi kalau bukan Bangkok Sky Train (alias BTS; btw, kenapa nggak disingkat BST ya…… *haha.. lupakan). Saat ke Sydney, saya sedih tidak bisa mengunjungi University of New South Wales bookshop. Lokasinya tidak bisa dijangkau dengan MRT. Tarif taksi ke sana untuk sekali jalan sekitar lima ratus ribu rupiah; kalau pulang pergi, udah sejuta aja hanya untuk ongkos taksi. Sementara kalau naik grab, harus dengan kartu kredit yang digesekkan ke mesin EDC yang dimiliki sopirnya (berdasarkan keterangan dari staf hotel). Ngeriiii ya boooo sembarang gesek kartu seperti itu. Untungnya, akhirnya kami menemukan Co-Op bookstore, yang juga menjual buku akademik, yang bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki10 menit dari hotel tempat kami menginap di CBD Sydney.

Oke, kembali ke CUB.

CUB hanya berjarak dari 2 stasiun BTS dari stasiun BTS dekat tempat saya menginap di kawasan Sukhumvit, Bangkok. Untuk mencapai CUB, saya naik BTS dari stasiun Nana, lalu memilih line Mo Chit -Samrong (arah Ha Yaek Lat Phrao), dan turun di stasiun Siam. Dari stasiun Nana ke stasiun Siam hanya melewati dua stasiun saja, yaitu Phloen Chit dan Chit Loem. Meski sudah membaca petunjuk naik BTS di blog orang, tapi tetap saja masih gagap untuk pengalaman pertama ini.

Setelah turun di stasiun Siam, kita hanya perlu jalan tiga menit alias 250 meter saja untuk mencapai CUB. Itu teori menurut gugel map, lho!. Prakteknya? Dengan kesasar sana sini karena nggak bisa nentuin utara-timur-selatan-barat, hampir setengah jam saya baru menemukan tempat ini hahaha…!

So, singkat kata singkat cerita, tibalah saya di CUB. Gedung ini bersebelahan dengan British Council. Mudah untuk ditemukan sebenarnya, jika Anda tidak gagap peta seperti saya hehe… Oya, meski toko ini milik Universitas Chulalongkorn, namun lokasinya tidak berada satu kompleks dengan kampus tersebut.

Saya melangkahkan kaki ke dalam gedung. Tulisan Chulalongkorn University Book Centre menyambut saya.

Dengkul saya hampir lemes begitu menjelajah lantai satu. Bo, isinya buku-buku beraksara Thai semua! Buku-buku yang dijual pun juga buku umum macam di Gramedia. Nggak seperti ekspektasi saya. Jadii… jadiiiii…. setelah berdesak-desakan di BTS, setelah jalan kaki muter-muter sampai mau copot di teriknya udara Bangkok, yang saya temukan hanya ini doaang…….Wow! *nangis bombay*

Saya akhirnya mencoba naik ke lantai dua, yang luasnya hanya seperempat dari lantai satu. Nggak punya ekspektasi apa-apa sih, hanya penasaran ada apa sih di lantai dua. Saya sudah ikhlas kalau ternyata yang dijual di lantai dua bukan buku akademik.

Dan ternyata ….

Saya menemukan apa yang saya cari hehe…

Lantai dua dikhususkan untuk menjual buku-buku teks akademik terbitan Pearson dan penerbit internasional lainnya. Jangan khawatir, bukunya ditulis pakai huruf latin dan berbahasa Inggris kok hehehe…. Selain menjual buku bidang ilmu Psikologi, Sosiologi, Kedokteran, Hukum, Ekonomi, dan Teknik, mereka juga menjual tentang buku Bahasa (termasuk buku TOEFL, TOEIC) dan buku latihan GRE dan SAT.

Buku-buku teks Psikologi yang dijual di CUB adalah buku basic seperti Psikologi Umum, Psikologi Perkembangan, Psikologi Abnormal, yang juga dijual di toko buku Spektra di Jakarta. Berbeda dengan di Co-Op Sydney, dimana ketika itu saya menemukan buku yang lebih spesifik (tentang family therapy dan vulnerable family). Untungnya, setelah menjelajah rak lain di lantai dua CUB, saya menemukan buku Metode Penelitian Kualitatif yang selama ini saya cari. Buku itu berisi penjelasan sederhana dan esensial (yang udah dipahami anak S1) tentang desain-desain kualitatif, termasuk yang selama ini jarang dijabarkan di buku kualitatif lainnya (focus group interviewing, participatory action research, dan ethnography). Cus, langsung saja saya bungkus. Harganya sekitar 1000 bath atau 400 ribu rupiah.

Selain buku, saya membeli 1 buah cangkir berlogo Chulalongkorn University untuk si doski. Oya, di toko ini tidak disediakan kantong plastik ya.

Kelar belanja di CUB, saya mampir ke kedai Mihi Mihi, untuk beli French Pastry yang berisi selai matcha.

.

Kantor Pos Jalan Sukhumvit

Pada suatu masa, saya pernah dikirimi kartu pos oleh seorang teman saat ia sedang studi di Tokyo dan menghadiri konferensi di Washington DC dan Penang. Kartu pos itu memotivasi saya untuk terus mencari ilmu hingga ke ujung dunia sekalipun. Nah, karena teman saya tidak lagi mengirimi kartu pos, akhirnya saya berpikir bagaimana kalau saya mengirim kartu pos untuk diri sendiri (plus untuk doski) dari tempat-tempat yang saya (kami) kunjungi, khususnya saat perjalanan konferensi.

Maka, setelah membeli kartu pos dari toko suvenir dekat hotel, saya pun mencari kantor pos terdekat. Ternyata ada, yakni di dekat (belakang?) Nana Square, Sukhumvit Road. Tempatnya nyempil, persis bilik ATM, dan papan namanya ketutupan mobil boks yang sedang parkir. Oalaaaah, pantesan, saya nyampe bolak balik beberapa kali nggak ketemu juga. Harga perangko untuk kirim kartu pos ke Indonesia, 15 bath saja. Perangkonya bewarna coklat bergambar raja.

Belakangan, saya baru tahu ternyata ada kantor pos yang lebih besar, yaitu Nana Post Office yang terletak di pinggir jalan raya Sukhumvit, dekat stasiun BTS Nana (nggak deket-deket banget sih).

.

Epilog

Cukup sekian kisah perjalanan saya selama berada di Bangkok dua hari. Kalau Anda mencari informasi tentang tempat-tempat ikonik atau review kuliner, tentu saja tulisan ini tidak informatif hehe…

Dua hari di Bangkok adalah waktu yang singkat. Saya memang tidak mencoba street food atau berkunjung ke tempat turis umumnya, tapi secara keseluruhan tetap berkesan. Ini pertama kalinya saya mencoba Singapore Airline (kenyang makan dan kenyang nonton!). Saya juga puas jalan jalan dan mencoba beragam fasilitas di Changi Airport saat enam jam transit, atau puas diomelin dengan bahasa Thai oleh sopir taksi bandara Suvarnabhumi ahahaha… tapi selain itu semua, momen yang paling insightful menurut saya adalah saat menyaksikan presentasi dari peserta Jepang di acara konferensi. Untuk yang satu ini, saya akan menuliskannya dalam postingan sendiri.

Check Also

Nyobain Check In 2,5 Jam Saja di Ibis Budget Airport Makassar (#SelayarTrip)

Yess, benar. Singkat. Hanya dua setengah jam saja kami check in di hotel ini, Sodara-Sodara! ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *