Sunday , 24 March 2019
Home / Kebetulan Hobi / Sainal Nehwal, Bintang yang Akan Bersinar (Ketika Itu)

Sainal Nehwal, Bintang yang Akan Bersinar (Ketika Itu)

[Tulisan lawas ini saya publikasikan pertama kali dalam situs bulutangkis.com saat perhelatan Djarum Indonesia Open Super Series 2009].

*

sumber: Aljazeera.com
sumber: Aljazeera.com

 

Setelah bertahun-tahun paceklik pemain berprestasi, kiranya India boleh bernapas lega dan menggantungkan harapan baru pada bintang yang tengah bersinar, Saina Nehwal. Meski dikenal sebagai negeri asal olahraga tepok bulu angsa, India tak banyak menorehkan sejarah emas dalam dunia perbulutangkisan. Di masa lampau, hanya Prakash Pradukone yang berhasil menjuarai kejuaraan bergengsi All England 1980, serta Pullela Gopicand yang menghadirkan kembali gelar tersebut 21 tahun setelah era Pradukone. Selain kedua nama itu, hampir dipastikan tak ada pendekar bulutangkis yang menonjol dari negeri Mahabarata tersebut.

Melalui dukungan ribuan penonton yang memadati Gelora Bung Karno, Saina berhasil menghempaskan pemain China yang memiliki peringkat diatasnya, Wang Lin melalui permainan yang memukau. Sebelumnya, di semifinal, gadis kelahiran 1990 dikepung tiga bintang negeri Tirai Bambu yang selama ini selalu mendominasi berbagai turnamen bulutangkis ; Xie Xingfang, Wang Lin, dan Lu Lan.

Dalam acara jumpa pers, Atik Djauhari, sang pelatih mengatakan hasil yang diperoleh Saina pada kejuaraan Indonesia Open Super Series 2009 ini melampaui target yang dicanangkan. “Awalnya, kami hanya menargetkan agar ia mampu berprestasi lebih baik dibanding Singapura Open minggu lalu”. Pada kejuaraan tersebut, Saina hanya mampu bertahan hingga babak perempat final.

Atik menyatakan keoptimisannya akan prestasi anak didiknya yang dikenal sangat disiplin dan patuh terhadap semua instruksi pelatih tersebut. ”Tadinya, saya menargetkan tahun depan ia berhasil menembus jajaran lima besar dunia. Namun melihat hasil yang didapat pada hari ini, sepertinya rencana itu akan berjalan lebih cepat”, ujar Atik yang hijrah ke India setelah 27 tahun menjadi pelatih Pelatnas PBSI. Berdasarkan daftar peringkat yang drilis BWF pada 11 Juni lalu, tunggal putri yang dibesarkan di kota Hyderabad itu berada di posisi 7 dunia.

Perkenalan Saina dengan bulutangkis awalnya karena pengaruh kedua orangtuanya, yang memang juara bulutangkis tingkat lokal di kota Haryana, India. Ayah Saina, Dr. Harvir Singh (seorang ilmuwan pada Directorate of Oilseeds Research, Hyderabad) mendaftarkan putrinya yang kala itu masih berusia 8 tahun pada program pelatihan bulutangkis musim panas yang bertempat di Lal Bahadur Stadium. Setiap hari, ayah dan anak ini harus bangun pukul 6 pagi dan menempuh perjalanan sepanjang 20 kilometer menuju tempat latihan. Setelah berlatih selama dua jam, sang Ayah lalu mengantar Saina ke sekolah. Tak jarang, Saina sering jatuh tertidur dalam perjalanan ini.

Demi mendukung keberhasilan putrinya, ayah Saina rela membobol tabungannya untuk memenuhi perlengkapan latihan yang biayanya mencapai 12 ribu Rupee setiap bulan. Melihat bakat dan prestasinya, pada tahun 2002, aparel olahraga Yonex menawarkan untuk menjadi sponsor bagi gadis yang kala itu masih berusia 12 tahun.

Perlahan, karir Saina di dunia bulutangkis mulai bersinar. Pada usia 16 tahun, ia menjadi wanita India pertama yang berhasil menjuarai kejuaraan bintang empat, Pilipina Terbuka 2006. Di turnamen tersebut, ia mengalahkan pemain Jerman, Xu Huaiwen, sebelum akhirnya menjegal tunggal Malaysia Juli Xian Pei Wong pada partai final. Masih pada tahun yang sama, Saina berhasil membukukan prestasi dengan menjadi runner up pada Kejuaraan Dunia Junior, setelah langkahnya dijegal unggulan asal China, Wang Yihan pada laga pamungkas. Barulah dua tahun kemudian, pemilik tinggi 170 cm ini berhasil mencatatkan namanya sebagai Juara Dunia Junior 2008 setelah menekuk unggulan asal Jepang, Sayaka Sato di partai puncak.

Meski kalah dari Maria Kristin di perempatfinal Olimpiade 2008, Saina Nehwal membukukan prestasi yang signifikan pada tahun yang sama, yaitu : menjadi juara di Chinesse Taipe Grand Prix Gold, serta menjadi semifinalis pada kejuaraan China Masters dan Singapore Super Series.

Usai olimpiade, Saina terus memperbaiki diri. Peringkatnya yang semula berada di posisi belasan dunia, perlahan mulai memasuki 10 besar. Setelah menempati posisi 7 besar pada minggu lalu, bukan mustahil minggu depan ia sudah berada pada top five pemain tunggal putri dunia setelah menjuarai Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Meninggalkan jauh Maria Kristin, Adriyanti Firdasari, dan pemain Indonesia lainnya yang sering berkutat dengan cedera dan masih kalah di babak-babak awal.

 

*Senin malam, setelah pulang kerja,

@Melok Roro Kinanthi

 

(*Foto: hanya ilustrasi, tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya).

Check Also

BULUTANGKIS: KUTIPAN KLIPING KORAN

Hobi mengamati dunia perbulutangkisan, membawa saya menjadi kolektor berita-berita bulutangkis. Dengan tekun saya mengumpulkan dan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *